perempuan

Posted on Mei 21, 2012

0


perempuan

“ Aku akan membawamu dalam perjalanan yang menyenangkan, perjalanan dimana tidak ada kesulitan, dimana tidak ada penderitaan, dimana semua tampak gembira, bukankah itu sebuah ilusi tanpa kamu berbuat, kamu memperolehnya. Kamu mengikutinya tanpa ada arah dan tujuan dan orang lainlah yang menunjukkan jalan itu dan membuat tujuan hidupmu yaitu kesengsaraan dan kematian, cukup sederhana bukan?”.

Sebuah cerita klasik yang selalu terdengar di telingaku. Aku langsung segera pulang kerumah dan meraih buku yang berisi cerita pendek yang sudah lama aku tidak membacanya dan sebuah puisi yang dibuat oleh mahasiswa tentang sebuah kekritisan sosial yang ada, dimana keadilan hanya menjadi sebuah dongeng cerita yang begitu indah, dimana ada kemunculan seorang nabi yang akan menyelamatkan orang-orang miskin. Cerita pendek itu hanya berisi kilasan singkat tentang kehidupan dalam lingkaran setan yang akan sulit keluar kalau tidak ada sebuah keajaiban dari usaha berelasi dengan orang yang memiliki modal.

“ Abdi hanyalah seorang anak yang keinginan kuat untuk bersekolah tetapi lingkungan keluarganya tidak pernah mendukungnya, Abdi harus membantu orangtuanya berkerja sebagai buruh tani garapan di sawah orang lain. Masa-masa kecilnya hanya dinikmati membantu orangtuanya. Abdi tidak lagi memikirkan apa itu sekolah. Abdi sudah terbiasa dan melalui hari-harinya dengan melakukan hal yang sama sampai akhirnya Abdi menikah dan memiliki anak, kehidupannya masih sama sebagai buruh tani, tidak ada perubahan yang begitu besar mempengaruhi keluarganya yang berada di sebuah desa pinggiran dengan keluarga-keluarga homogen yang situasinya sungguh memprihatinkan. Kekerasan bahkan penindasan sungguh menjadi memori yang tidak pernah terlupakan, masalah keuangan dan pekerjaan membuat orang buta mata dan membabibuta merusak dan melakukan kekerasan.”

Aku langsung menutup cerita pendek tersebut dan langsung tidur. Aku masih penasaran dengan banyak hal kesenangan yang ditawarkan sekarang ini yaitu kehidupan yang hedonisme, konsumerisme serta semua informasi yang memberikan tawaran yang mengiurkan serta dehumanisasi. Tiba-tiba fokus pikiranku beralih pada laki-laki yang belum lama aku kenal dan menjadi bagian dalam hidupku. Pertama kali bertemu sosok laki-laki tersebut, dia hanya melihatku memiringkan kepala dan menatap dengan tatapan tajam dan berkata “Rupanya kamu memperhatikan aku selama ini.” Perkataannya benar-benar membuatku senam jantung karena kaget atas ucapannya. “Aku tidak suka denganmu.” Aku hanya bengong dan terdiam seribu bahasa mendengar ucapannya.

“Apa yang kamu katakan? Maaf, kamu terlalu percaya diri untuk mengatakan hal itu. Terima kasih. Semua akan baik-baik saja. Aku hanya mengatakan hal itu. Ketika aku keluar, aku benar-benar melihat matanya yang penuh kekecewaan. Aku pulang dan langsung membaringkan tubuhku di kasur yang sungguh nyaman dan menghapus pikiranku tentang hal yang aku alami hari ini.

Keesokan harinya, Dia sepertinya mengikuti aku disepanjang jalan, aku berbalik dan benar-benar aku menatap matanya. “ Kenapa kamu mengikutiku? Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Kamu juga tidak menyukaiku.” kataku. Dia hanya tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa. “ Pergi jauh-jauh dariku.” Itulah yang aku katakan. “ Aku ingin berkata kepadamu, boleh kita membicarakan tetapi tidak ditempat ini.” Katanya. “ ya, aku paham apa yang kamu katakan.” Jawabku. Aku hanya terbiasa melihatnya akan menceritakan sesuatu hal yang begitu abstrak dan aku harus belajar untuk berpikir apa yang sedang Dia pikirkan walaupun Aku tidak pernah menyukai sikapnya dan tentunya Dia tidak menyukaiku.

Ini bukan lagi masalah. Dia terlihat cekatan merangkai kata-kata untuk membuatku mengerti apa yang Dia katakan. “ Kesulitan itu tidak pernah kelihatan tetapi mempengaruhi tubuh, kesenangan dekat sekali dengan kesedihan dan kebahagiaan dekat sekali dengan kesengsaraan tetapi tidak terlihat dan itu hanya ada dalam dirimu.” Katanya. “ Apakah itu begitu halus sehingga tak tersentuh.” ledekku. Dia hanya tertawa terbahak-bahak. “ Banyak buku yang mengajarkan hal itu kan, baik yang berat maupun begitu ringan untuk dipahami.” Katanya. “ Aku tidak suka dengan teka-teki yang tidak pernah terpecahkan, kamu tahu.” Terlihat komunikasi kita tidak pernah sejalan walaupun sebenarnya tujuannya tetap mengarah pada hal yang sama. “ Apa bedakan kamu dikatakan pintar padahal begitu bodoh.” Terlihat Dia begitu menekanku dan dalam batinku Dia begitu menyebalkan. “ Orang cerdas/pintar tidak jauh-jauh melakukan hal yang bodoh. Apa bedanya, dan itu tidak ada.” Kataku. “ Begini, lihatlah dan buka mata lebar-lebar apa yang terlihat disana, dijalan, di dalam kendaraan, di dalam ruangan di dalam pinggiran, di dalam kota dan di dalam desa. Apa yang kamu baca di dalam koran itu, apa yang sedang terjadi di tempat kita tempati? Kekacauan bukan!!” kenapa kamu harus menambahnya lagi?” katanya.

“ Sudahlah, aku mau pergi. Tidak ada waktu aku berdebat denganmu.” Kataku sambil meninggalkan Dia. Rupa-rupa Dia masih mengikutiku, apa yang sebenarkan Dia inginkan? Aku hanya bertanya-tanya. Aku juga tidak akan mengikuti hal yang booming, Aku tahu Aku harus mengaktifkan otak-otak memoriku untuk melakukan banyak hal bukan lagi omong kosong. Aku berjalan lambat, dipinggiran jalan. Kurasa Dia masih mengikuti, Aku masuk ke dalam rumah dan aku tahu Dia berhenti dan berbalik.

Sejenak pikiranku mulai berpikir apa yang Dia ucapkan, tidak mungkin aku hanya berdiam diri dan tidak melakukan banyak hal. Situasi makin larut dalam arus yang tiada henti membawa ke arah yang tidak jelas. Orang aneh yang selalu mengikuti dalam pikiranku. Tampaknya Aku tidak pernah melihat Dia lagi, kemana gerangan? Aku ingin menemuinya untuk sekedar mengatakan sesuatu. Dia mulai menghilang, entah kemana. Aku mulai menertawakan diri sendiri. Masa bodoh memikirkan orang yang perkataannya tidak Aku mengerti, tidak peduli mau bicara ini dan itu. Terserah!! Danu Pratama, nama sosok laki-laki yang belum lama Aku kenal lewat acara relawan dan partisipasi gerakan mahasiswa untuk penghijauan. Banyak kecocokan dan tentu banyak ketidakcocokan diantara kita, terkait idealisme.

“ Nin, kok melamun aja, yuk keperpus. Kita kerjakan tugas kuliah Analisis Demografi. Sepertinya tugas kuliah akhir-akhir ini tambah berat saja. Kupikir mahasiswa tingkat lanjut sudah mulai sedikit tugas yang tidak dikerjakan. Malah masih segunung banyaknya, ayo Nin.” Ajak Rita. Benar-benar Rita Kusumaningrum bikin heboh saja. Sepertinya tugas perkuliahan tidak segunung banyaknya, emang berkelebihan kata-kata sahabatku ini. “ Rit, kemana Rhico? Kok jarang kelihatan dikampus. Nanti sore kita kekosnya yuk!! Sekalian kita ngobrol atau makan bareng gitu.” Sahutku sambil berjalan menuju gedung perpustakaan yang lumayan lengkap dan gratis selagi jadi mahasiswa. “ Ok. semoga Rhico tidak jalan ma Mbak Inung, Mbak manis dari Palembang yang sudah lama ditaksirnya. Apalagi kos Rhico dekat dengan Mbak Inung.” Aku langsung menimbali perkataan Rita dengan sahutan “sepertinya tidak deh, ditolak cintanya itu ma Mbak Inung. Mana ada Rhico yang sifatnya masih kekanak-kanakan, manja banget ma Mamanya, biayanya masih ditanggung oleh Mamanya yang berkerja keras menghidupinya tanpa Papanya. Keputusan apapun masih harus diputuskan oleh Mamanya.”

Tengah malamnya, aku terbangun. Aku mulai membaca novel dari J.M Coetzee, dia adalah seorang penulis dari Afrika Selatan dan pemenang Nobel Sastra 2003. Isi Novelnya sangat menarik tentang keadaan sosial yang terjadi di Afrika Selatan tentunya. Aku mulai mengantuk dan menaruh pembatas buku di halaman yang belum aku baca dari novel J.M Coetzee. Paginya di kelas Analisis Sosial, Aku sedikit terburu-buru datang karena kesiangan bangun dan pastinya Aku terlambat masuk kelas Analisis Sosial. “ Waduh, catatanku tertinggal di kos,bagaimana ini?” Sontak kataku. Aku mengela napas panjang dan menghadapi hari ini dengan omelan Dosen yang tidak aku sangka menyuruhku keluar dari kelas. Aku hanya terdiam dan menganggap teguran Dosen sebagai koreksi diri bahwa Aku harus memiliki prioritas. ******

Mahasiswa, dalam benakku adalah keistimewaan yang telah berhasil masuk Universitas dari berbagai seleksi yang ada tetapi sekarang semua berubah, bukan lagi suatu hal yang istimewa bukan lagi suatu prestasi yang dapat menyelamatkan bahkan merupakan akar-akar pengetahuan yang digunakan untuk mempermainkan dan mendapatkan sesuatu yang menguntungkan. Aku tahu bukan lagi menjadi hal yang bebas mengeluarkan pendapat dalam sebuah Universitas yang bersifat akademik dan manusiawi. Bayangan kekaguman pada sebuah Universitas yang hebat dan mengubah tatanan kehidupan rasanya hanya isapan jempol belaka. Mempertahankan idealisme diantara serangan-serangan ketidakadilan, ketidakjujuran bahkan soal isi perut. Aku tahu orang-orang yang duduk di pemerintahan pernah berpendidikan dan masuk sebuah Universitas serta diajarkan berbagai moralitas, kecerdasan bahkan kekritisan hidup, tetapi semangat itu hanya impian.

Rita Kusumaningrum, aku mengenalnya sejak awal masuk kuliah. Perempuan yang cerdas dan berwawasan tetapi masih mempertahankan sifat tradisionalnya yang kadang aku tidak sepaham dengannya. Berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tapi yang menarik adalah teman satuku ini adalah seorang lesbian, cukup aneh memang! Aku tidak tahu latar belakangnya mengapa Dia memutuskan menolak pelukan laki-laki dan memilih berada dalam pelukan serta ciuman lembut perempuan. Aku menyayanginya sebagai sahabatku dan menghargai pilihannya yang cukup mengagetkan bagiku di tengah semester kuliah kami.

Aku tidak pernah ingin mencampuri kehidupan pribadi teman-temanku seperti apapun itu, tetapi Aku membuka diri untuk mau berbagi dengan mereka. Rhico Kuncoro, temanku yang satu ini cukup unik dan menyenangkan, anak manja yang berusaha menutupi dirinya dengan berbagai masalah yang menimpanya, orangnya cukup cerdas dan piawai dalam berargumen, tetapi itu hanya sekilas tentang dia. Mamanya seorang single parent, bercerai dengan Papanya karena Mamanya tidak ingin dipoligami. Rhico begitu membenci Papanya dan berusaha Dia tidak ingin menyakiti perempuan apalagi Mamanya. Rhico selalu pandai menutupi segala pribadinya terhadap dunia tetapi tidak denganku. Aku tahu Rhico membutuhkan orang untuk mencurahkan segala isi hatinya dengan orang lain, kesedihan, kepenatan dan kehampaan diri. Aku merasa senang menjadi temannya untuk berbagi, aku tahu ini menjadi hal tersulit bagi Rhico yang merupakan anak satu-satunya. Mamanya siang malam membanting-tulang untuk membiayai biaya kuliah Rhico yang makin mahal serta biaya hidupnya. Berulang kali Rhico ingin memutuskan keluar dari Universitas, karena Dia merasa berdosa, apa yang dapat dilakukan kuliah sambil kerja untuk biaya hidup, biaya SPP yang selalu tertunda dan didenda. Aku hanya berusaha membangkitkan semangatnya untuk tetap bertahan, apalagi ketika Mamanya sakit, Rhico sepoyongan mencari dana untuk pembiayaan.

Lain halnya Arumi Febrianti, temanku satu ini adalah mahasiswa yang luar biasa otaknya encer, prestasinya luar biasa dan mendapatkan beasiswa serta dari keluarga latar belakangnya sangat kaya. Mungkin, Dialah teman satu-satunya dari semua teman-temanku yang paling berbahagia yang selalu membantu keuangan Rhico walaupun kadang Rhico sangat keberatan atas bantuan dari Arumi. Aku sendiri, mahasiswi yang kadang ingin serba tahu segalanya tetapi kadang tidak pernah mengerti dan tidak paham apa yang terjadi, mengharapkan semua akan baik-baik saja, bahwa semua adalah tidak realistis terjadi. Kehidupanku sangat sedang-sedang saja tanpa gejolak tanpa tantangan, dan aku mencoba menutupi semua hal dari diriku sendiri bahwa aku tidak puas. Oh, Nina Sutriano!!!.

‘kamu kenapa Nin? Terlambat?’ kata Arumi yang langsung menghampiriku dibangku tunggu di loby Kampus. ‘ Aku diusir hari ini dikelas Pak Basuki, aku merasa kacau Rum, sangat!!’ jawabku. “ Ceritakan padaku, mungkin aku dapat membantumu.” Kata Arumi yang berusaha ingin tahu apa sebenar masalahku. ‘Aku harus mencari pekerjaan baru, orangtuaku mengalami kebangkrutan, aku tidak bisa lagi bergantung terus menerus kepada mereka. Aku ingin mandiri Rum, walaupun kadang sedikit berat bagiku membiasakan hidup seperti ini. Mungkin inilah rasanya seperti yang dialami Rhico, tapi aku mencoba bertahan atas apapun yang terjadi. Aku tetap berkuliah.’ Jawabku panjang lebar kepada Arumi sahabatku yang sifat kedewasaannya membuatku nyaman bercerita dengannya. ‘ Apakah aku bisa membantumu, Nin? Celetuk Arumi tiba-tiba. ‘ tidak.” Kataku singkat. ‘ aku akan berusaha sendiri Rum, aku akan memulainya semua dari awal, kalian Rita, Rhico adalah sahabatku dan teman berbagi yang terbaik.’ Tegasku.********

Malam itu begitu gelap, lampu kamar sengaja tidak dihidupkan dan diluar gerimis menerpa cukup hebat hingga tetesannya membasahi kaca jendela, terlihat seorang perempuan melepaskan pakaiannya hingga pakaian dalamnya. Kran air sengaja dihidupkan untuk mengisi kosongnya bak mandi. Rita berusaha menyiapkan segalanya untuk teman kencannya malam itu. Ya, Jesica dari Sulawesi yang belum lama dikenalnya lewat komunitas yang Rita ikuti. Jesica adalah perempuan yang menawan, cerdas serta dari Univeristas yang terkenal, dandannya tidak memperlihatkan dia seorang lesbian. Rita begitu cekatan mempersiapkan segalanya hingga kamar dibersihkan, lilin dihidupkan dan hal itu merupakan hal yang begitu romantis sekaligus ironis dan menyedihkan. ‘Sayang, sudah siapkah?’ tanya Rita yang menunggu teman kencannya untuk bercinta malam itu. Ini bukan hal pertama kalinya Rita mengajak teman perempuannya bercinta, Rita cukup setia kepada Jesica. Tiba-tiba telepon genggam Rita berdering. ‘halo, Rit. Ini Nina, kamu sibukkah? Besok aku tidak masuk kampus, surat ijinnya aku berikan ke kamu saja ya!’ sahutan Nina yang terkesan terburu-buru. ‘ ok, pagi saja. Nin.’ Balasnya. Telepon langsung ditutup. ‘ Ada telepon dari siapa sayang’ kata Jesica. ‘ oh, dari temanku Nina, katanya dia tidak masuk kampus besok pagi.’ Sahutnya. ‘ Sayang, kamu tidak menyukainya kan?’ kata-kata Jesica yang tiba-tiba cukup membuat kaget Rita. ‘ kamu tahu sendiri, dia adalah teman terbaiku dan aku tidak menyukainya seperti aku menyukaimu.’ Kata-kata Rita yang mencoba menenangkan Jesica.

Pagi sekali, aku menemui Rita dan memberikan surat ijin kepadanya. Diperjalanan pulang aku bertemu dengan Danu yang tiba-tiba memegang tanganku erat dan menarik badanku dan langsung dia memelukku. ‘Aku sedikit kacau hari ini.” Bisikku langsung aku melepaskan pelukannya. ‘ok, aku tidak akan menganggumu, kalau kamu membutuhkan bantuanku langsung beritahu.’ Katanya. ‘ Kenapa kamu tiba-tiba memelukku? Ada setan apa yang memasuki dirimu?’

‘Bukankah kamu suka hal itu,bukan apa-apa.’ Jawabnya yang kadang membuatku kesal dengannya. ‘sudahlah, aku akan pergi ke rumah Buleku.’ Itulah kalimat yang terucap dariku untuk mengakhiri. ******

Aku kerumah Buleku dan menginap disana, aku sudah lama tidak mengunjungi mereka, sepupu dan Om. Aku masih ada sanak-saudara. ‘ kata kabarnya Bapak dan Ibumu tuh lagi krisis ya, bangkrut.’ Sahut Buleku yang ingin tahu kabarku. ‘ ya, Bule.’ Jawabku singkat. ‘ Lha, syukurnya kamu tuh masih ada Bule dan Om, kapan selesai kuliah?’

‘Sebentar lagi Bule, tahun ini. Aku selesai.’kataku. ‘ Trus mau kerja dimana? Bule dan Om-mu bisa bantu, untuk biaya terakhir kuliahmu, tapi jelas belajar yang benar. Ora usah melu-melu koncomu sing ora genah, piye jal. Bapak dan Ibumu tuh sudah sekarat sekarang. Hutangnya sudah menumpuk trus minta pinjeman ma Om-mu dan Bule-mu suruh bantu koe. Bule yo ora seneng itung-itungan dengan saudara sendiri. ‘ ya, Bule. Matur nuhun. Aku akan cepat selesaikan kuliah.’

Aku jadi ingin selesaikan.

Aku jadi ingin selesaikan kuliahku secepatnya ora kepenak dengan saudara-saudara. Malam itu, aku tidak bisa tidur dengan pulas, ada saja pikiran yang menganggu. Aku menulis kegelisahan dan kepenatan hatiku dalam tuangan puisi di secarik kertas.

Dapatkah aku melalui

Kapan lagi harus menghapus kesedihan..

Berucap bahwa semua adalah cobaan ringan..

Sangat ringan..hingga aku dapat melaluinya..

Aku tidak perlu menangis, tidak perlu..

Pagi sekali, aku langsung berpamitan kepada Bule dan Om-ku. Perjalanan di dalam bus dan merasakan bahwa kesendirian merasuki, aku kangen dengan rumahku, kegembiraan dan kehangatan. Akhirnya lamunanku membawaku terlelap di dalam bus. ******

Rhico bersiap-siap mengajukan beasiswa kampus, dan menemui Dosen bagian kemahasiswaan untuk membantunya mencarikan beasiswa. Rhico sekarang terlihat bukan lagi remaja bahkan anak laki-laki yang masih lekat dalam pelukan Mamanya, Ia adalah sosok Pria dewasa yang mampu mengatasi persoalannya. ‘ Rhico, ada beasiswa dari perusahaan ternama, mungkin kamu bisa mengikutinya dan kalau tembus bisa kerja disana setelah selesai dari bangku perkuliahan.’ Kata Dosen yang berusaha menguatkanku. ‘ ya, pak. Saya akan mencobanya. Terima kasih banyak.’ Langsung Rhico pergi meninggalkan ruang kemahasiswaan. Mam, aku akan berusaha membanggakanmu. Batin Rhico.

‘ Rhico, kamu dari mana saja, aku cari-cari kok ndak ada.’ Kata Arumi. ‘ lha kamu carinya dimana? Aku tadi keruang kemahasiswaan.’ Rhico senang sekali melihat sahabatnya satu ini, selalu ingin tahu tentang dirinya. ‘ oh, cari beasiswakah? Aku bisa membantumu untuk mencari info tentang beasiswa terbaru bahkan untuk pendidikan lanjut. Bagaimana?’ Arumi berusaha menyakinkan Rhico bahwa dia tidak sendiri. ‘ gak usah, Rum. Aku bisa sendiri kok. Kamu terlalu banyak membantuku.’ Senyum Rhico tampak lebar berusaha tidak ingin mengecewakan Arumi. ‘ya, baiklah. Semangat.’ Arumi membalas senyuman Rhico. Akhirnya Rhico berlalu dari hadapan Arumi.

Arumi pulang ke rumahnya yang cukup besar untuk dapat di tempati duabelas orang. ‘ Bi, kemana Papa dan Mama? Trus kakak Heru.’ Kata Arumi kepada Bibi Minah yang berkerja selama delapan tahun di rumah Arumi dan sudah dianggap keluarga sendiri. ‘ Papa Non, keluar Negeri ada urusan mendadak kalau Mama Non, ada keperluan bisnis di Jakarta. Itu Non yang Bibi Minah tahu. Non tidak diberitahu toh?’ oh ya, kalau Kakak Non.

Pergi tadi dengan teman-temannya.’

‘Bi, bisa nanti malam, aku minta tolong pijatkan badanku. Lagi tidak enak badan, capek sekali.’Sahut Arumi sambil memelas. ‘Ya, Non. Istirahat dulu Non. Bibi sudah menyiapkan makanan di ruang makan.’

Beginilah kaya belum tentu bahagia tetapi sepi, kesibukan Papa dan Mama yang luar biasa hingga sulit berkumpul dengan keluarga. Aku kadang merasa iri dengan teman-temanku lainnya Rita, Rhico dan Nina yang selalu bisa dekat dan ditelepon kabarnya dengan orangtua mereka, bahagia sekali. Mendekap hangat kasih orangtua. Aku harus mandiri dan terbiasa dengan ketidakhadiran Papa dan Mamaku. Kesibukan mereka mengabaikan anak-anaknya.

Syukurnya aku memiliki teman-teman yang baik dan selalu membuatku bersemangat walaupun aku paling bercukupan diantara teman-temanku. Kakakku Heru makin kacau saja, karena tidak dapat menerima kelakuan Papa dan Mama. Ketidakhadiran Papa dan Mama dirumah dibayar dengan banyaknya uang yang dikirimkan direkeningku. Tentu, aku dapat berfoya-foya untuk menikmati kehidupannya ini tetapi ada sesuatu kesedihan yang mendalam ketika teman-temanku kesusahan dalam masalah keuangan. Aku selalu membantu mereka untuk sekedar jalan maupun makan-makan, ketika melihat teman-temanku bahagia maka aku akan bahagia.*****

Posted in: Uncategorized