REPRESENTASI KETIDAKADILAN GENDER FILM INDONESIA

Posted on November 8, 2011

0


“ Buruan cium Gue”, Berbagai suami, Ayat-ayat Cinta, Ada apa dengan cinta??, Perempuan Berkalung Sorban, dan banyak film Indonesia yang merepresentasikan realitas yang semu dalam kehidupan masyarakat serta terkait dengan permasalahan gender terutama perempuan bahwa perempuan dekat dengan citra ideal yang dimunculkan sebagai perempuan yang lemah, cantik, memiliki seksualitas yang menarik, pekerjaan domestik,  penurut, pasif dan inilah konstruksi sosial yang direpresentasikan dalam film Indonesia.

Perempuan tanpa sadar merasakan menikmati di eksploitasi oleh kuasa laki-laki di film-film Indonesia tanpa perempuan memiliki keputusan bagi dirinya sendiri dengan menampilkan sosok yang begitu berbeda dalam pemikiran laki-laki. Perempuan tanpa mengeluh dan menerima suaminya melakukan kekerasan dalam rumah tangga di setiap adegan film.

Film-film Indonesia memperlihatkan realitas semu tentang gender bahwa ada jenis kelamin laki-laki dan perempuan dimana kaum perempuan disudutkan oleh adanya konstruksi social walaupun sebenarnya laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak dan kedudukan martabat yang setara secara social dan secara biologis kimiawi yang membedakannya tetapi permasalahan gender terkait erat dengan perempuan karena mayoritas perempuan mendapatkan ketidakadilan atas konstruksi yang dibangun oleh manusia. Isu perempuan tidak pernah habis dibicarakan keterkait dengan ketaraan maupun ketidakadilan  gender dan paham patriarki di Indonesia bahwa kekuasaan laki-laki yang menentukan keputusan kehidupan perempuan. Film-film Indonesia merepresentasikan pengaruh besar ketidakadilan gender. Apakah dalam film-film Indonesia Perempuan menjadi penentu ketidakberhasilan film-film Indonesia atau bahkan membawa keberhasilan film-film Indonesia dengan segala atribut yang dikenakan perempuan untuk memperlihatkan kemampuan berperan dalam film-film Indonesia baik peran antogonis maupun protogonis.

Media film menjadi bagian konstruksi sosial

Film-film Indonesia telah membangkitkan bentangan realitas nyata dan realitas semu yang dikonstruksikan secara sosial sehingga peran media film sungguh-sungguh menjadi agen sosialisasi yang di konstruksikan bahwa perempuan ditampilkan sebagai pribadi yang teralienasi dengan tubuhnya sendiri bahwa tubuh perempuan hanya dinikmati sebagai citra seksualitas, kecantikan untuk kepentingan produsen film. Film-film Indonesia tidak dapat berdiri tanpa ada perempuan yang menjual produk hasil produksi dari produsen film.

Dalam bukunya John Storey yang diterjemahkan  dalam judul cultural studies dan kajian budaya pop tahun 2007 menjelaskan bahwa dalam dunia yang terstruktur oleh ketidakseimbangan seksual antara laki-laki dan perempuan bahwa kesenangan akan melihat telah terpisah jauh dari dua posisi yang berbeda, laki-laki menatap, memandang dan melihat sedangkan perempuan memamerkan keadaan yang harus dipandang, dilihat, ditatap yang mempermainkan sekaligus menandakan hasrat laki-laki dan ini menjadi sesuatu penting dalam film-film Indonesia untuk menjadi nilai jual tinggi yaitu dapat menampilkan perempuan yang dapat dipajang berperan sebagai objek erotik bagi penonton laki-laki walaupun perempuan berperan sebagai pahlawan yang memakai pakaian laki-laki tetapi ada adegan dimana perempuan melepaskan pakaiannya dan bercinta dengan laki-laki. Laki-laki berperan aktif sedangkan perempuan berperan pasif serta penonton laki-laki yang melihatnya memakukan tatapannya dan merasakan bahwa adegan tersebut memuaskan libidonya. ( Strorey, John. 2007:81).

Perempuan pada akhirnya mengalami sesuatu perbedaan makna seksualitas, tidak ada keadilan dimana perempuan hanya menjadi objek hasrat laki-laki dengan penampilan yang memperlihatkan lekukan tubuhnya, kecantikan fisik, serta produksi film-film Indonesia telah menetapkan syarat-syarat khusus untuk perempuan dalam berperan karena syarat-syarat inilah yang menentukan keberhasilan dan kesalahan yang terbesar yang menyebabkan gagalnya peredaran film-film yang diproduksi di limpahkan kepada perempuan.

Perempuan dalam film-film Indonesia di komunikasikan membawa pesan dalam budaya patriarki yang ditandakan melalui konstruksi stereotif dan mitos dan bukan lagi menjelaskan secara sosiologis tentang persoalan perempuan yang dihadapi karena tekanan kesadaraan yang palsu. Kecantikan serta kepribadian perempuan dibentuk menurut dominasi produsen film untuk menampilkan aura ketertarikan atas film yang akan di produksi. Julia Kristeva juga menjelaskan model dari simiotika dan simbolik yang diambil dari penggabungan dari analisis Freudian dan semiologi structural-nya Lacan yang berkerja dalam kehidupan fisik, tekstual dan sosial didasarkan pada pembedaan dorongan seksual tentunya antara laki-laki dan perempuan maupun orientasi seksual yang berbeda yang diperlihatkan dalam film-film. Struktrur sosial dalam produksi film dikonstruksikan bahwa agama dan paham patriarki mendominasi serta keadaan perempuan tidak memiliki kuasa di dalam keputusan yang menentukan pilihan peran-peran.

Perempuan mengalami ketidakberdayaan dimana perempuan hanya dituduh penyebab kegagalan film Indonesia dan keuntungan produksi film. Karya Claire Johnston tahun 1970, dalam pemikirannya Johnston mengadopsi pemikiran Althusser tentang ideologi sebagai sebuah sistem representasi atas realitas serta produk dari suatu struktur sosial yang khas dan menampilkan kealamiahan atau universal kepada penonton yang menjadi subyeknya. Johnston menggunakan ideologis bukan lagi menganalisis tentang kapitalisme tetapi paham budaya patriarki yang ditampilkan dalam suatu ideologis seksis dan sinema film yang di dominasi laki-laki dan perempuan hanya objek yang terus dipertontonkan untuk laki-laki yang menikmati secara aktif.

Helene Cixous mengatakan bahwa ada struktur dialektis mendominasi formasi subjektivitas yang mengarah pada perbedaan seksual, Cixous menggunakan istilah pola hubungan majikan dengan budaknya dan Cixous menjelaskan bahwa masyarakat patriarkal, perempuan direpresentasikan sebagai yang lain/berbeda yang membutuhkan untuk dibentuk dan mendapat pengakuan identitas dan selalu mengancam keberadaan laki-laki sehingga perbedaan seksual terdapat dalam struktur kekuasaan dimana toleransi perbedaan yang mengancam hanya dapat dilakukan dengan ditindas serta posisi laki-laki yang akan berperan sebagai penyelamat perempuan dan membentuknya. Luce Irigaray adalah seorang filsuf feminis dan menggunakan pendekatan psikoanalisis dalam karyanya serta mengambil istilah dari Lacan dan Derrida, Irigaray menjelaskan bahwa pandangan terhadap perempuan yang memiliki pola hubungan ibu-anak perempuan tidak dapat disimbolkan sehingga mempersulit perempuan untuk memisahkan dari ibu.

Film-film Indonesia memperlihatkan bahwa menjadi Ibu adalah suatu kebahagiaan walaupun penderitaan, penindasan, perceraian dilakukan oleh pihak laki-laki maupun anak laki-lakinya. Janice Radway membicarakan tentang fiksi percintaan populer yang dipublikasikan dalam bentuk film dewasa maupun remaja, dimana  ada bentuk-bentuk budaya paling rendah yang diidentifikasi sebagai feminin yang menarik bagi laki-laki. Film merupakan media yang akan ditonton dan James Lull menjelaskan bukan sekedar produk, jasa atau ide-ide yang dijual oleh produsen film tetapi sistem pembentukan ide-ide atau gagasan yang berlapis-lapis serta terintegrasi yang mencakup penginterpretasi dan proyeksi citra-citra produk film serta memberikan pemaknaan bagi penonton ( konsumen) bahwa inilah realitas sesungguhnya yang ada di masyarakat. Media termasuk film memiliki fungsi positif dan negatif, Film-film Indonesia dapat memberikan efek postif tetapi memberikan ruang bagi kesetaraan gender termasuk homoseksual. Media film dapat menjadi agen perubahan yang besar terkait dengan perubahan mikro maupun makro dimana film mempresentasikan realitas dekonstruksi atas realitas yang di terjadi di masyarakat bahwa perempuan secara gender memiliki kekuatan, kemampuan, dan persamaan dalam hal sosial seperti pekerjaan. Industri film mengkonstruksikan film sebagai media komunikasi yang efektif menanamkan ideologi hegemoni secara halus mempengaruhi penonton film untuk mempersepsikan peran sosial dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Citra dalam media film Indonesia memperlihatkan kontradiksi serta memberikan efek-efek kepalsuan yang mengacu pada sistem citra ideasional dan mediasional yang mendasari persuasif mempengaruhi ideologi terhadap kesadaran kolektif masyarakat, dimana kontradiksi ini berhubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang ada dimasyarakat bahwa efek negatif akan ditekan dengan menanamkan persepsi-persepsi tentang tema-tema yang membudaya membenarkan nilai dari gaya hidup masyarakat. Dalam hal ini media menjadi pedang bermata dua, dimana media film membentuk realitas yang terjadi dimasyarakat tetapi media film juga mengkontruksikan masyarakat untuk mengharapkan menonton dan kepentingan industri film. Kesenjangan sosial dan diskriminasi terlihat di dalam perfilman Indonesia bahwa budaya tradisional terkait paham patriarki maupun status sosial dilanggengkan dalam proses pembuatan film, dimana ada perbedaan status yang memiliki kekuasaan dan status yang miskin yang lemah tanpa memiliki modal.

Dalam teori sosiologis Fungsionalisme Struktural, dimana structural sosial dibangun harus sesuai dengan nilai-nilai bersama, consensus, integrasi sosial dan keseimbangan, dimana aturan-aturan ada diciptakan untuk keharmonisan tetapi disisi lain teori konflik dari sosiolog Ralf Dahrendof mengkritisi teori fungsionalisme structural yang dimana hanya melanggengkan kekuasaan sistem sosial yang dibentuk dan menciptakan kehidupan statis dan bukan dinamis serta hanya mementingkan satu pihak penguasa dan kalangan bawah yang miskin, bodoh bahkan tersingkir tidak mendapatkan kesempatan untuk menunjukan kemampuannya. Hal tersebut juga terlihat bahwa sistem patriarki masih dilanggengkan dalam film Indonesia, sistem sosial yang memperlihatkan keadaan realitas semu yang dibangun dalam film-film yang berisi romantika, magic, action maupun film yang berbau nasionalisme.

Film-film Indonesia belum memperlihatkan konflik yang mendasar dalam kehidupan bermasyarakat bahwa kebodohan dan kemiskinan dilanggengkan oleh pemilik modal yang berkuasa untuk menentukan tema-tema film-film apa yang dapat muncul dalam perfilman Indonesia. Film yang kontra dalam realitas yang semu adalah Perempuan berkalung Sorban dimana Anisa ( Revalina S Temat) seorang perempuan yang memiliki pendirian kuat, cantik dan cerdas hidup dalam lingkungan konservatif keluarga kyai pesantren Salafiah putrid Al-Huda. Ilmu sejati yang harus dipelajari adalah Qur’an, Hadist dan Sunnah. Seorang perempuan muslim tidak berdaya dimana agama Islam selalu membela laki-laki bahkan sistem keluarga patriarki yang merengkut kebebasan perempuan walaupun secerdas perempuan tidak mampu melumpuhkan sistem sosial yang membentuknya.

Ketidakadilan terlihat nyata dalam lembaga-lembaga agama maupun dalam dunia perpolitikan, budaya, bahkan kesehatan. Perempuan dikonstruksikan oleh agen sosialisasi baik keluarga, media bahkan sistem yang membentuknya bahwa perempuan tidak memiliki sesuatu untuk diunggulkan bahwa perempuan harus penampilan yang cantik dengan pengorbanan operasi plastik, meluruskan rambut yang kriting, memancungkan hidung, memutihkan kulit, membersihkan bulu-bulu yang tumbuh lebat dilengan, kaki, tangan maupun daerah kemaluan perempuan, perempuan harus di rias dalam kesakitan dan pengorbanan untuk laki-laki dan film-film memperlihatkan bahwa sosok laki-laki menyukai perempuan yang langsing, putih, cerdas, tinggi dan berpenampilan menarik agar tidak memalukan laki-laki ketika harus memamerkan perempuan sebagai kekasihnya di depan publik dan perempuan merasa teralienasi terhadap dirinya sendiri dan merasa malu jika tidak berdandan ketika keluar dari rumah dan menunjukkan kepada suami dan kekasihnya bahwa perempuan selalu cantik, menarik, cerdas supaya suami maupun kekasihnya tidak lari meninggalkan dirinya dalam keadaan sangat memalukan.

Pelecehan seksual di dalam peran-peran erotis perempuan menjadi realitas yang tidak terelakan bahwa perempuan tidak sadar bahwa tubuh menjadi produk untuk dijual dalam industri perfilman, pakaian yang seksi, payudara yang sedikit menonjol dan kulit yang putih bersih menjadi aset besar bagi laki-laki untuk melanggengkan statusnya. Apakah semua menjadi salah laki-laki dan perempuan, gejala sosial yang riil merupakan fakta sosial yang harus dipelajari secara sistematis dengan metode-metode empiris yang diungkapkan oleh ahli sosiolog Emile Durheim sebagai kekuatan yang memaksa bersifat ekternal dan fakta sosial berkaitan dengan nilai-nilai serta norma yang ada di masyarakat seperti halnya dalam media perfilman adegan perilaku seksualitas perempuan dan laki-laki diperlihatkan sebagai bentuk publik dan ini disepakati dalam transaksi antara aktor maupun produsen dan pihak-pihak sponsor. Penonton hanya menikmati adegan tersebut dan menanamkan ideologisnya untuk melakukan kekerasan kepada istrinya. Film yang tidak kalah menarik untuk di tonton adalah The Freedom Writers yang di angkat dari kisah nyata terkait dengan permasalahan rasisme, Erin Gruwell ( Hillary Swank) memperankan guru yang memberikan perubahan besar kepada dirinya maupun kepada anak-anak didiknya bahwa mereka memiliki potensi untuk terlepas dari ketertindasan atas nama rasisme. Erin Gruwell menjadi sosok perempuan yang tangguh dan rela mengorbankan hubungannya dengan suaminya demi kepentingan bersama yaitu anak-anak didiknya. Disisi lain kaum laki-laki harus memiliki kepekaan sensitif feminis untuk berjuang bersama melawan ketidakadilan yang di alami banyak perempuan.

  Penonton Perempuan dalam media film

          Dalam bukunya Dr. Mansour Fakih menjelaskan tentang menganalisis gender dan transformasi sosial dimana ada diskursus dalam perubahan sosial dan teori ini lahir dari  pandangan Foucault tentang diskursus, kekuasaan dan pengetahuan dan tidak dapat dipisahkan dan melalui proses pendisplinan serta normalisasi termasuk dalam industri perfilman di Indonesia yaitu aspek kekuasaan dalam peran-peran antogonis, protogonis, majikan dengan pekerjanya, laki-laki dan perempuan serta aspek seksualitas yaitu menampilkan erotis kekuasaan dalam tubuh laki-laki dan objek seks adalah perempuan yang menelanjangi tubuh untuk dinikmati para kaum lelaki untuk kepentingan industrial perfilman, film adalah media yang populer menyentuh bahkan menghegemoni penontonya. ( Gramsci.1999:119). Ada kelas-kelas yang lebih unggul mendominasi kelas-kelas yang rendah dalam memaksa secara halus bahkan tidak sadar mempengaruhi aktor-aktor dalam industri film, sisi yang lebih lemah dan tidak berkuasa adalah perempuan dimana perannya tidak ditampilkan secara aktif menentukan arah jalannya kebebasan perempuan.

Penonton perempuan ketika melihat adegan film romantis, kekerasan, pelecehan bahkan perkosaan perempuan di dalam film menurut Mulvey penonton perempuan tidak tampak di depan khalayak yang dianggap sebagai laki-laki. Penonton perempuan juga teralienasi/ terasing dengan menonton film perempuan yang beradegan seksi dan menarik kaum laki-laki, para penonton perempuan merasa inilah yang mereka alam sebagai perempuan dilecehkan, memiliki beban ganda, melayani suami ketika meminta untuk berhubungan intim. Film-film perempuan memperlihatkan berbagai kontradiksi dan ketidakstabilan internal dalam diri perempuan, bagaimana perasaan penonton tercurah dalam emosional dengan kemarahan, tangisan, bahkan kebahagiaan ketika aktor dan aktris yang dikagumi akhirnya bertemu dan hidup bahagia walaupun film-film dikonstruksikan bahwa penonton harus merasakan sentuhan situasi yang ditayangkan oleh film-film yang diproduksi pemilik modal.

Penonton merasakan sentuhan bahwa aktris antogonis yang dilihatnya harus disingkirkan dan digantikan aktris protogonis. Film “ Bawang Merah dan Bawang Putih” adalah film yang menceritakan kontradiksi dalam diri perempuan bahwa media film maupun sinema mengadu dua sosok perempuan yang dinilai negatif dan positif dan sama-sama mengingini laki-laki yang sama, dua sosok perempuan ini harus berjuang untuk menarik perhatian laki-laki dan dikonstruksikan bahwa sosok perempuan cantik, baik, penurut, sabar pasti mendapat laki-laki yang diidamkan dan sosok perempuan yang nakal, tidak penurut, matrialitis, sombong, angkuh, pemarah akan dijauhi laki-laki dan tidak menarik karena dinilai merepotkan.

Ketimpangan yang terlihat jelas dalam film-film Indonesia yaitu dipoligami, sosok jahat yang harus dikutuk dan tidak berhak mendapatkan laki-laki idamannya, sosok yang baik, penurut sesuai dengan ajaran agama, berpakaian tertutup dan tidak memperlihatkan auratnya,sosok penyihir, pelacur. Film-film Indonesia terkait dengan permasalahan gender hanya melanggengkan status laki-laki sehingga ketidakadilan selalu muncul dalam aspek kehidupan. Siapakah yang akan disalahkan? laki-laki atau perempuanlah atau sistem patriarki yang membentuknya. Laki-laki dapat berupaya berjuang untuk membebaskan perempuan dari ketidakberdayaan dengan memiliki sikap sensitif gender dengan ikut ambil bagian dalam kehidupan perempuan termasuk mengetahui sistem reproduksi perempuan dan melakukan tugas-tugas domestik serta berupa memberikan dukungan untuk berkerja di aspek public, ada kesetaran dalam hal sosial.

Dalam dunia sosial, Istilah gender tercetus pada tahun 1972 oleh sosiolog feminis dari Inggris bernama An Oakley ketika merefleksikan tubuh perempuan yang penuh “ embel-embel” oleh masyarakat sebagai kodrat sehingga proses “embel-embel” dinamakan dengan istilah “ Pengenderan” dan istilah gender menunjuk pada perilaku kedua seks jantan dan betina yang dapat di pelajari oleh manusia atau konstruksi sosial yang diciptakan manusia sebagai pembeda serta perbedaan secara biologis memicu terjadinya perbedaan gender dan menjadi alasan bagi laki-laki untuk mengesahkan perbedaan peran sosial atas dasar gender. Ketidakadilan makin menyudutkan kaum perempuan bahkan budaya patriarki mendukung alasan ketidakadilan gender.

Film-film Indonesia mempresentasikan ketidakadilan gender bahwa perempuan hanya dijadikan simbol maupun tanda seks,perempuan yang disimbolkan penurut dengan sistem patriarki yang mematuhi peraturan agama. Ketidakadilan terlihat dari sosok peran perempuan dalam film-film Indonesia, dimana kehancuran perfilman disebabkan oleh sosok perempuan yang tidak memberikan nilai jual kepada khalayak penonton serta eksploitasi tubuh untuk kesenangan bahkan dinikmati oleh kaum laki-laki. Media film menjadi agen sosialisasi juga agen perubahan dalam masyarakat dari medialah dekonstruksi maupun konstruksi sosial atas gender dibangun. Media film ini juga mempresentasikan kesadaran palsu dan alienasi para pekerja di dalam industri perfilman, budaya patriarki menjadi dominasi dalam serial film Indonesia dimana ketidakadilan gender terlihat jelas bahwa perempuan begitu lemah, menangis, dipelecehkan, dihina, bahkan dipukuli, dipoligami. Sosok artis perempuan yang berperan antogonis/jahat dalam film mendapatkan kutukan, dijauhi, dipenjara, bahkan mendapatkan caci-maki, perilaku yang dilihatkan dengan konstruksi sosial bahwa perempuan yang berperan antogonis, identik dengan matrialitis, sombong, angkuh, serakah, tidak berbelaskasih,memperlihatkan auratnya.Inilah adalah simbol-simbol kekuasan patriarki kapitalis dalam dunia industry film dimana peran pemerintah ikut andil dalam pembentukan sistem sosial.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barthes, Roland. 1972. Membedah Mitos-Mitos Budaya Masa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, simbol, dan Representasi. Yogyakarta: JALASUTRA

Bungin, Burhan.2008. Konstruksi sosial Media Massa, Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi dan Keputusan Konsumen serta Kritik Terhadap PETER L.BERGER & THOMAS LUCKMANN. Jakarta:Kencana Prenada Media Group

Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender & Transformasi Sosial.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jackson,Stevi dan Jackie,Jones.2009 ( Terjemahan). Pengantar Teori-Teori Feminis Kontemporer. Yogyakarta: JALASUTRA. Lull, James. 1997. Media Komunuikasi Kebudayaan suatu Pendekatan Global. Jakarta: Yayasan obor Indonesia.

Lull, James. 1997. Media Komunuikasi Kebudayaan suatu Pendekatan Global. Jakarta: Yayasan obor Indonesia.

Sarup, Madan. 2008. (Terjemahan). Panduan Pengantar untuk Memahami Postrukturalisme & Posmodernisme.Yogyakarta: JALASUTRA.

Storey,John.1996. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop.Yogyakarta: JALASUTRA

Tester, keith.2003. Media,Culture and Morality. Yogyakarta: Kreasi Wacana Yogyakarta.

 

Posted in: Uncategorized