RELASI ANTARA BISNIS DAN STRUKTUR SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Posted on November 8, 2011

0


                                                                                                            

PENGANTAR

            Ilmu ekonomi menekankan pada pembelajaran suatu fungsi di dalam subsistem di dalam masyarakat meliputi aktivitas produksi, distribusi dan jasa bahkan tentang perbisnisan tetapi sosiologi mempelajari tingkah laku individu/kelompok berinteraksi dan relasi social dalam perbisnisan serta masyarakat. Ekonomi adalah induk system dari beberapa subsistem dan memiliki peranan fungsional hubungan dengan system ekonomi dan system social. Perkembangan selanjutnya bahwa menurut Parson dan Smelser ( 1956) menyatakan bahwa ekonomi memiliki sifat adaptif, memiliki tujuan, terintegrasi dan selalu berusaha mempertahankan pola dan berkaitan dengan permodalan dan investasi, permasalahan produksi. Pertumbuhan ekonomi tidak selalu diiringi dengan pertumbuhan peningkatan kesejahteraan rakyat secara seimbang dan lebih dinikmati oleh pengusaha bisnis dan melihat manusia sebagai objek perbisnisan bukan subyek manusia.

Perkembangan perusahaan besar di Indonesia dapat dikatakan mengalami kemajuan tetapi pengaruh investor asing masih mendominasi perusahaan yang ada di Indonesia yaitu berupa jalingan hubungan  kebutuhan akan teknologi serta modal keahlian padahal aset bahan baku yang ada di Indonesia menjadi aset terpenting untuk pertumbuhan perekonomian perusahaan-perusahaan maupun bisnis-bisnis yang berskala kecil tetapi belum diolah secara mandiri oleh sumber daya manusia Indonesia sehingga membutuhkan intervensi pihak asing dalam pengelolahan bahan baku yang ada di Indonesia dan lebih menguntungkan pihak asing padahal kekayaan sumber daya alam dan manusia jika dapat di organisasikan dengan maksimal dapat menumbuhkan perkembangan perekonomian Indonesia namun ada hal yang menghambat yaitu pendidikan dalam pengelolaan, pengawasan, kepemimpinan, budaya Indonesia dan intervensi pihak pemerintah ikut  mempengaruhi kebijakan perusahaan maupun industri yang berskala besar dan kecil  atas  tuntutan pajak serta kebijakan-kebijakan lainnya. Struktur social yang ada di masyarakat ikut mempengaruhi keberadaan bisnis-bisnis yang ada di Indonesia terkait dengan budaya, nilai-nilai serta norma-norma yang di pegang oleh masyarakat Indonesia. Ada berapa data 6 perusahaan terbesar di Indonesia yaitu:

  1. PT. Telkom yang mendapatkan urutan 675 di dunia perbisnisan Internasional dan menempati posisi pertama di Indonesia dengan market value mencapai 10,60 miliar dolar AS, penjualan 6,30 miliar dolar As, Laba 17,41miliar dolar As serta aset 797,77 miliar dolar AS.
  2. BCA menempati peringkat 930 dengan market value 4,79 miliar dolar AS dan menduduki urutan ke-2 di Indonesia.
  3. BRI di posisi 988 dengan market value 3,80 miliar dolar AS
  4. Bank Mandiri pada posisi 1.014 dengan market value 3,01 miliar dolar AS
  5. Bumi Resources diurutan 1.809 dengan market value 1,25 miliar dolar AS
  6. BNI menempati posisi 1.960 dengan market value 0,88 miliar dolar AS [1]

Perusahaan terbesar yang ada di Indonesia merupakan salah satu aspek penggerak roda bisnis di Indonesia bahkan menurut asumsi yang dikutip dalam majalah Forbes tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan-perusahan yang besar di Indonesia telah menampung banyak tenaga kerja sehingga meminimalisasi pengangguran dan juga berjasa dalam pertumbuhan Negara karena pajak yang dikenakan termasuk tinggi untuk industri maupun perusahaan besar yang ada di Indonesia. Perusahaan maupun Industri di Indonesia memiliki berapa aspek yang menjadi target pengelolaan bukan saja tentang pengelolaan uang masyarakat Indonesia tetapi aspek-aspek yang lain. Ada data-data tentang perusahaan maupun Industri memiliki potensi besar menggerakan perekonomian yang ada di Indonesia termasuk memiliki pertumbuhan yang di andalkan pemerintah Indonesia untuk tetap dipertahankan sebagai berikut :

  1. Aspek pertanian : Musim Mas, Aspek Otomotif & Transportasi: Astra, Aspek Perbankan:    BCA, Bank Dagang Nasional, Bank Internasional Indonesia, BRI, PT Bank Panin, Bank Mandiri,BNI.
  2. Aspek kayu & Kertas produk : Asia Pulp & Paper, Cipta Mebelindo Lestari PT, kertas nusantara, kelompok Raja Garuda Mas, Sinar Mas Group. Aspek Bahan Kimia: PT Tri Polyta Indonesia, Aspek Konstruksi: PT. Semen Gresik.
  3. Aspek Kosmetik: Martha Tilaar Group
  4. Energi & Air: Bayan Resources, Asia Tengah Petroleum Ltd, paiton, pertamina, Anak Listrik Negara, PT Adhya Tirta Batam, PT DKI Power, Virginia Indonesia co, Sidoarjo Air, PT Tanjung Jati.
  5. Aspek logam dan tambang : PT. Aneka tambang ,PT Krakatau Steel, PT Timah
  6. Tembakau: Djarum, Gudang Garam Tbk
  7. Jasa Telekomunikasi: PT. Telekomunikasi Indonesia, telkomsel
  8. Transportasi Jasa: Garuda Indonesi

 

Inilah beberapa jumlah organisasi/perusahaan yang meliputi aspek-aspek kebutuhan terkait dengan produksi ( pemilik modal ) dengan konsumen yang ada di masyarakat Indonesia dengan latarbelakang budaya yang membentuknya serta relasi bisnis dalam arti ekonomi dengan struktur sosial yang ada di masyarakat, bagi ekonom focus perhatian adalah pertukaran ekonomi, pasar dan ekonomi sedangkan masyarakat di nilai sebagai “ sesuatu yang ada di luar mereka” dan dipandang sesuatu yang telah ada. ( Damsar, 1992). Perkembangan bisnis Indonesia adalah pasang-surut dimana kualitas sumber daya manusia tidak terlalu menguasai keahlian pengoorganisasian manusia sehingga timbul banyaknya pengusaha yang bangkrut dan pengangguran semakin meningkat. Seleksi memasuki dunia perkerjaan pun mengalami permasalahan terkait nepotisme bahwa pemegang modal yang memiliki sanak-saudara berhak menduduki jabatan dan status yang sama dengan kedua-orangtuanya.

 

Rumusan masalah

Perkembangan bisnis yang ada di Indonesia lebih di dominasi oleh industri-industri kecil bukan perusahan-perusahan besar dan bagaimana  relasi bisnis dengan struktur sosial di dalam masyarakat jika dilihat dari perspektif sosiologis.

Tujuan Penulisan

            Tujuan penulisan adalah dapat menjelaskan bagaimana relasi bisnis terkait struktur sosial yang ada di masyarakat jika dilihat dari perspektif sosiologis dan dapat menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi terkait dengan perkembangan bisnis yang ada di Indonesia dengan banyaknya angka pengangguran dan bangkrut/tidak sukses suatu perusahaan.

 

 

Pembahasan

Struktur sosial didefinisikan menurut Kornblum sebagai pola prilaku berulang-ulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antarkelompok dalam masyarakat dan terkait dengan peran dan status yang ada dalam masyarakat. Menurut George C.Homans struktur sosial berkaitan dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-hari.  Struktur sosial yang dijelaskan oleh para ahli sosiolog akan berhubungan dengan sesuatu yang terdiri atas bagian yang saling tergantung dan membentuk satu pola tertentu, bagian tertentu dapat berupa perilaku individu atau kelompok, institusi, organisasi maupun masyarakat itu sendiri.

Pandangan relasi bisnis ( ekonomi) dengan struktur sosial secara sosiologis jauh berbeda apalagi terkait dengan budaya yang ada di Indonesia yang masih berpegang kuat dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada di dalam masyarakat, menerapkan bisnis dalam arti ekonomi bahwa manusia tidak dipandang tetapi nilai dari transaksi yang menjadi daya tukar dengan tujuan keuntungan dan perkembangan bisnis bukan manusia.

Dalam sosiologi ekonomi dan menurut teori Max Weber tentang tindakan sosial, konsep tindakan ekonomi dalam mikroekonomi aktor diasumsikan mempunyai pilihan dan preferensi yang telah tersedia dan stabil. Tindakan aktor hanya berpusat pada tujuan memaksimalkan pemanfaatan ( Individu) dan keuntungan ( perusahaan) dengan menjalankan status dan perannya dan menilai individu dalam dunia bisnis yang membuat organisasi tumbuh sukses. Tindakan tersebut dinilai rasional secara ekonomi tetapi secara sosiologis menurut tindakan sosial Max Weber  tindakan ekonomi dapat berupa rasional tradisional ( kebudayaan) dan spekulatif-rasional sedangkan secara ekonomi tidak memberikan tempat bagi rasional tradisional. Karl Marx mengkritisi para ahli ekonomi yaitu Adam Smith dan David Richardo yang mengatakan bahwa kepentingan diri individu yang bersifat rasional merupakan dasar untuk pasar dan landasan tata sosial serta kebijakan politik Laissez-           Faire merupakan jaminan yang paling baik untuk menyumbangkan pada kesejahteraan umum dan hakikat sosial manusia dikesampingkan. Karl Marx melihat lebih mendalam mentalitas dunia pasar yang bersifat impersonal itu ke hubungan-hubungan sosial dan struktur sosial sebagai satu sumber alienasi yang paling mendalam.

Karya awal Marx tentang The Economic and Philosophical Manuscripts of 1844 yang berisikan ide tentang nasip hubungan-hubungan sosial ketika sesuatu menjadi komoditas yaitu dapat dijual dan dibeli dan pembahasan tentang tenaga kerja yang berkerja di dalam industri atau perusahaan besar dimana tenaga kerja mengalami keterasingan terhadap dirinya maupun produk-produk yang dihasilkannya. Dalam A Contribution to The Critigue of Political Economy menjelaskan bahwa ekonomi merupakan pondasi dari masyarakat dan di atas pondasi tersebut dibangun superstruktur politik dan hukum. Pondasi structural dari masyarakat sering juga disebut dengan infrastruktur yang merupakan keseluruhan dari kekuatan-kekuatan produksi ( mesin, tenaga kerja, pengetahuan teknis) kekuatan-kekuatan sosial (hak milik, otoritas dan hubungan kelas). Tokoh yang juga mengaitkan relasi bisnis dengan struktur sosial adalah Emile Durkheim dalam The Division of Labor in Society yang menjelaskan tentang pembagian kerja untuk menciptakan suatu kesejahteraan, pembagian kerja merupakan sarana utama bagi penciptaan kohesi dan solidaritas dalam masyarakat modern. Tingginya tingkat pembagian kerja dan peranan yang berbeda antar setiap orang sehingga ada basis ikatan ( Penyatuan) atas dasar persamaan ( Solidaritas Mekanis) dan ketidaksamaan ( Solidaritas Organis).

Dalam masyarakat modern, hak dan kewajiban berkembang dalam saling ketergantungan yang dihasilkan oleh pembagian kerja bukan pertukaran dan struktur pasar yang mengikat masyarakat modern tetapi ketergantungan yang direfleksikan pada moralitas dan mentalitas kemanusiaan serta kenyataan solidaritas organis itu sendiri yaitu dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kesamaan, kebebasan dan hukum kontrak dalam masyarakat sebagai struktur sosial. Permasalahan yang akan menimbulkan konflik adalah salah satu peran dalam pembagian kerja yang tidak dilaksanakan dengan baik maka akan terjadi kekacauan. Teori Durkheim tentang pembagian kerja pada perusahan atau industry-industri yang berkembang diperkotaan dengan menerapkan rasional modern maka ketergantungan menjadi hal yang mengikat solidaritas para pekerja sehingga ahli teknisi yang bagus sulit digantikan sama dengan teknisi lainnya sehingga menjadi salah satu faktor menurunnya kualitas produk perusahaan dan bahkan jika ahli-ahlinya tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah maka akan terjadi kebangkrutan.

Teori hubungan kemanusiaan (human relations theory), teori ini menekankan pada karakter social pekerja dan menfokuskan pekerja sebagai kelompok social bukan sebagai individu, teori hubungan kemanusiaan erat hubungan dengan struktur social bahwa ada hubungan antara status pekerja dengan status pemimpin dan peran-peran yang akan dilakukan tetapi hubungan bukan dilihat dari individu tetapi status dan perannya dalam dunia social di dalam relasi bisnis. Relasi bisnis dengan struktur social masyarakat terlihat dari stratifikasi social seperti yang terjadi dalam keluarga, lembaga agama, pemerintah/Negara. Stratifikasi social merupakan aspek terpenting dari struktur social, dimana ada pembagian, tingkatan, strata yang disatukan dalam atribut bahkan ciri-ciri umum. Bisnis dilakukan dengan tindakan berdasarkan perbedaan status atas kepentingan kelas-kelas yang dibentuk. Dalam suatu perusahaan/ perbisnisan nilai kebudayaan yang ada di dalam struktur social akan mempengaruhi perbisnisan antara relasi bisnis. Contoh antara lain: Kebudayaan Jawa yang memiliki toleransi tinggi serta ikatan persaudaraan sehingga dalam perdagangan antara orang Jawa masih ada toleransi jika saudaranya berhutang maupun relasi bisnisnya karena harapnya adalah menjaga keharmonisan dalam keluarga termasuk dalam berbisnis.

STRUKTUR ORGANISASI DAN JARINGAN SOSIAL DI MASYARAKAT

            Struktur organisasi menurut Pugh et al (1968) ada 5 dimensi utama dalam struktur organisasi yaitu spesialisasi, standardisasi, formalisasi,sentralisasi dan konfigurasi ( peran) walaupun hasil penelitiannya tidak seperti yang dikonsepkan bahwa ada penstrukturan aktivitas, konsentrasi otoritas, pengendalian lini terhadap aliran kerja, size komponen pendukungnya dan  struktur organisasi mencerminkan tentang bagaimana tugas-tugas di komunikasikan dalam mekanisme koordinasi formal dengan pola interaksi  sehingga di katakan oleh  A.B Susanto bahwa komponen terpenting dalam struktur organisasi adalah kompleksitas, formalitas, dan sentralis.Dalam pendekatan kaum strukturalis bahwa organisasi social juga memilii struktrur organisasi yang melandasi segala kegiatan dan merupakan suatu karakteristik penting dalam masyarakat dan terkait dengan pola-pola struktur social sehingga dapat menentukan konsep organisasi yang dapat diterima oleh semua actor-aktor di dalam masyarakat  dan menurut kaum strukturalis bahwa organisasi social ada dalam semua tingkatan struktur social. Etzioni mengatakan bahwa organisasi adalah:

“ organisasi adalah suatu unit social atau kelompok manusia yang berkerjasama untuk mencapai suatu tujuan seperti perusahaan, angkatan bersenjata, sekolah, rumah sakit, gereja, dan penjara sedangkan suku bangsa, kelas, kelompok etnis, keluarga tidak dapat dikarakterkan sebagai organisasi karena organisasi memiliki karakter dengan pembagian tenaga kerja, kekuasaaan, tanggung jawab dan komunikasi.”

Dalam menanggapi suatu organisasi dalam masyarakat agar tetap kokoh berkembang dengan pola formal maupun informal dibutuhkan interaksi social dengan adanya jaringan social baik di intern maupun ekstern organisasi. Granovetter menegaskan ada keterlekatan perilaku ekonomi dengan hubungan social melalui jaringan social dalam kehidupan ekonomi dan sosiolog akan mendefinisikan dengan bagaimana individu terkait antara satu dengan yang lainnya dan bagaimana ikatan afiliasi melayani baik sebagai pelicin untuk memperoleh sesuatu yang dikerjakan maupun sebagai perekat yang memberikan tatanan dan makna pada kehidupan social dan jaringan social merupakan rangkaian hubungan yang khas di antara sejumlah individu dengan dengan sifat-sifatnya yang ciri-ciri dari hubungan ini merupakan keseluruhan yang dipakai untuk menginterpretasikan tingkah laku social dari individu-individu ( Mitchell, 1969) serta pada tingkatan struktur social bahwa hubungan social akan meningkatkan bahkan akan melemahkan perilaku individu/kelompok untuk terlibat dalam berbagai arena kehidupan social.

Menurut Parsons dan Smelser bahwa ekonomi merupakan salah satu subsistem dalam masyarakat serta subsistem inilah yang membentuk pola pemeliharaan laten dan system managemen dan setiap masyarakat memiliki suatu system nilai dan kepercayaan yang akan mengoperasikan suatu rancangan yang melegitimasi dan berkelanjutan bagi institusi utama dan selanjutnya merujuk pada pencapaian tujuan dan untuk mencapai tujuan dibutuhkan adaptasi terstruktur dengan system manajemen semisal produktivitas ekonomi dan integrasi dimana agar tidak terjadi pertentangan dan diperlukan suatu keseimbangan walaupun pandangan Parsons dan Smelser hanya melanggengkan status dan peran dalam struktur social.

 

KESIMPULAN

Struktur sosial yang dijelaskan oleh para ahli sosiolog akan berhubungan dengan sesuatu yang terdiri atas bagian yang saling tergantung dan membentuk satu pola tertentu, bagian tertentu dapat berupa perilaku individu atau kelompok, institusi, organisasi maupun masyarakat itu sendiri. Dalam tingkatan struktur social, relasi bisnis dapat melalui pendekatan jaringan social dalam berhubungan dengan individu maupun kelompok bahwa dalam tataran struktur social dapat meningkatkan hubungan dan melemahnya perilaku, sikap atau budaya dalam membangun suatu bisnis. Struktur social terkait dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati bersama dan menjadi suatu pola dalam masyarakat terkait dengan peran dan status. Dalam hal ekonomi terkait dengan bisnis bahwa tindakan rasional terbangun dari adanya interaksi social di system social tertentu seperti halnya perdagangan bisnis Jawa berbeda dengan Perdagangan bisnis Batak maupun Padang. Dalam perbisnisan, struktur social begitu mempengaruhi perkembangan pertumbuhan maupun runtuhnya suatu organisasi baik yang formal maupun informal. Struktur social ini yang penting dipelajari oleh pembisnis. Perilaku, tindakan bahkan sikap, kebiasaan maupun lokasi desa dan perkotaan dalam masyarakat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat bahkan membentuk suatu organisasi baik berbentuk institusi, perusahaan, industri dan lembaga-lembaga pendidikan, agama dan sebagainya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Damsar. 1977. Sosiologi Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Handoko, dkk. 2004. Strategi Organisasi. Yogyakarta: Amara Books

Parker, Brown, Child dan Smith.1992. Sosiologi Industri. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Liliweri, Alo. 1997. Sosiologi Organisasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti

Johnson, Doyle Paul.( terjemaahan) 1981. Teori sosiologi klasik dan modern.

Susanto. 1997. Budaya Perusahaan, Manajemen dan persaingan bisnis.Jakarta: PT. Elek Media Komputindo.

Kompas, selasa 14 April 2009

 

 

 

 

 

 


[1] Menurut Forbes, data-data perusahaan yang  masuk List ini merupakan data terkini dengan market value berdasarkan tanggal 27 februari 2009 ( Kompas, selasa 14 April 2009)

Posted in: Uncategorized