PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI HAKIKATNYA SAMA

Posted on November 8, 2011

0


Tiada hal yang lebih Indah selain kita bersyukur dan hal yang tersulit adalah memulai sesuatu, saya jadi teringat  kata-kata bahwa Jenius adalah orang yang mampu membuat hal-hal yang rumit menjadi serderhana.  Tanggal 8 Maret  diperingati sebagai hari perempuan sedunia dan tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Apa yang kita pikirkan tentang perempuan?  Tentu selintas dipikiran kita adalah cantik, seksual, keibuan, anggun, menarik.

Manusia terlahir dengan sex yang berbeda yaitu sebagai identitas diri laki-laki dan perempuan, setidaknya perbedaan yang ada justru menjadi suatu hal yang Indah, tetapi permasalahan mulai bermunculan ketika persepsi manusia serta dukungan sistem sosial yang ada menempatkan laki-laki sebagai superior dan perempuan sebagai interior. Konstruksi sosial yang terbangun dari berbagai kebudayaan di berbagai negara khususnya Indonesia masih memandang sebelah mata perempuan, konstruksi sosial itulah benar-benar membentuk perempuan yang dibayangkan oleh masyarakat, permasalahan pelecehan, perkosaan, kekerasan perempuan, ketidakadilan dalam keputusan berorganisasi, masalahan domestik erat kaitannya dengan perempuan. Eksploitasi tubuh dalam dunia perfilman, iklan, dan berbagai tayangan  media hiburan, itu menjadi hal yang begitu biasa dibicarakan.

Perempuan mengalami suatu alienasi dengan dirinya sehingga  merasa senang ketika banyak pujian dari berbagai laki-laki yang memandangnya  dan perempuan dari kecantikan fisik mendapatkan keuntungan serta hinaan, cukup ironis ketika gerakan feminis muncul justru tidak menghargai martabat manusia antara laki-laki dan perempuan, perempuan bertindak seperti seorang penjahat memperkosa bahkan melakukan kekerasan terhadap sesama perempuan dan laki-laki, ada perasaan untuk menjadi superior dengan tindakan yang dikonstruksikan  seperti laki-laki yaitu kuat, egoistis, kasar dan rasional.

Perempuan dan laki-laki hanya memiliki perbedaan dalam hal sex tetapi tidak dalam hal gender, banyak hal yang dapat dilakukan oleh laki-laki juga dapat dilakukan oleh perempuan, Perempuan memiliki otoritas yang besar dalam mengatur laki-laki dan sebaliknya. Peristiwa pemisahan antara laki-laki dan perempuan tidaknya membawa dampak negatif buruk secara psikologis yaitu perasaan penasaran dan ingin tahu sehingga eksploitasi terhadap tubuh perempuan muncul bahkan secara sosiologis membentuk sebuah konstruksi sosial yang membedakan dan memisahkan. Contoh kecil: Dalam sebuah keluarga inti, kamar laki-laki dan perempuan akan dibedakan, seorang adik laki-laki sebaiknya tidak tidur dengan kakak perempuan dalam satu ranjang tetapi dipisahkan, pekerjaan rumah ada sebuah pembagian tugas menurut gender.

Setiap permasalahan tentunya ada suatu solusi yang setidaknya dapat dilakukan bahwa pelecehan seksual, perkosaan, kekerasan, ketidakadilan di ranah publik dan domestik perempuan dapat di atasi dengan berkomunikasi terbuka, menyadari hakiki manusia sebagai manusia bebas yang memiliki pilihan, atribut perempuan bahkan kecantikan perempuan bukan menjadi suatu hambatan dan pujian terhadap diri, Kekritisan perempuan yang perlu ditumbuhkan untuk menghargai kehidupan karena faktor eksternal benar-benar membentuk diri perempuan sesuai dengan keinginan individu-individu yang memiliki kepentingan menikmati seperti halnya industri kosmestik, industri peralatan rumah tangga, industri pakaian, industri perfilman dan periklanan, industri Media massa. Laki-laki dan perempuan memiliki sifat yang sama yaitu rasional dan emosional, lemah dan kuat, lembut dan kasar karena manusia diciptakan memiliki hati.

Sistem Patriarki yang dibentuk di masyarakat menguntungkan dan melemahkan perempuan jika ditelaah secara kritis, kesediaan bersikap empati, terbuka dengan segala keluh-kesah yang dialami baik laki-laki dan perempuan justru saling mendukung dan memberikan sumbangsih besar terhadap keberlanjutan kehidupan manusia yang sadar akan lingkungan hidup, kepekaan sosial terhadap manusia. Sistem Patriarki yang dibentuk masyarakat dapat diubah jika tidak sejalan dengan fungsinya karena masyarakatlah yang menentukan arah dan tujuan kehidupan dunia. Secara sosiologis kesalahan yang dibuat individu sehingga kerusakan alam dan permasalahan hak asasi menjadi sebuah permasalahan dunia yang membutuhkan proses untuk penyelesaikan yang tidak menghilangkan eksensial diri manusia. Manusia dilahirkan dengan keindahan dan kecantikan diri sehingga hargailah dengan mencintai alam dan sesama.

Yogyakarta, 11 Maret 2011

Posted in: Uncategorized