Sebuah cerita, sebuah hati

Posted on Oktober 19, 2011

0


Kadang kita terlalu egois terhadap orang lain

Padahal cinta adalah suatu yang tidak bersyarat, kebebasan untuk pertumbuhan diri…….

Bukan hanya perasaan yang mengebu-gebu dan ucapan tetapi sebuah tindakan nyata perilaku diri

Rasanya terlalu mudah mengatakan aku suka, aku cinta padahal begitu sulitnya kita mengampuni dan menerima kekurangan orang lain seutuhnya.

Seperti diriku sendiri, konstruksi dalam benak kita membuat standar-standar baku yang harus dipenuhi dan kenyataanya kehadiran cinta itu mati.

Betapa sulitnya menghadirkan orang lain dalam hati untuk memasuki ruang kepribadian kita yang begitu sempit……

Pemikiran yang mengkotak-kotakan antara rasio dan emosional berpadu dalam ketentuan yang tidak pasti………….

Hasrat untung-rugi menjadi pemikiran kita untuk memilih suatu hal yang mengecewakan…….

Kehadiran Tuhan yang sumber kasih hilang di telan keserakahan dan keangkuhan diri…

Kesal dan begitu rasanya, seperti tercekik leherku. Hitungan hari menentukan satu hal dalam hidupku yaitu kekhawatiran dan ketakutan masa depan yang tidak pernah ada. Banyak pengangguran, stress,,,,

“ Mmmm,,terasa otakku penuh pikiran yang tidak penting dipikirkan.” Kataku. Sisi kamarku yang begitu sempit membuatku stress dan terasa dipenjara. Oops, mahasiswa dengan idealisnya berlaga segalanya tahu, padahal idealisnya akan dimakan oleh kenyataan yang ada yaitu mengantri mencari lowongan pekerjaan. Wow, ada mobil berwarna merah melintas di depan mataku. Aroma mobilnya baru, terlihat seorang pemuda menghampiri mobil warna merah itu dengan berpakaian rapi dan memakai parfum begitu menyengat hingga sampai tercium oleh hidungku. Maklumlah aku masih duduk di depan halaman kosku dan memandang rumah kos laki-laki di sebrangnya sambil melihat-lihat kalau ada laki-laki yang menarik dan tiba-tiba seorang wanita seumuran kira-kira 40-an turun dan menggandeng pemuda tersebut. Mungkin tante-tante girang, sepertinya aku mengenal pemuda itu, tidak asing. “ Wow, Deden sekarang sudah punya profesi baru, menemani tante kesepian yang ditinggalkan suaminya yang sibuk akan kecintaan dengan perkerjaannya. “ On, ngapain bengong, tar kesampet setan lewat lho!!!!!” tegur Ira sambil menjitak kepalaku.

“ Aiishh, ngapain sih, menganggu meditasiku!!! Lihat ndak tadi Deden jadi laki-laki supercool, cakep tapi sayangnya peliharaan tante-tante. Ngomongnya aja sok-sok-an di Kampus padahal menjilat ludahnya.” Ucapku dengan kesalnya. “On, gak penting mengkomentari orang segitunya. Biarlah Deden ngomong apa aja, setidaknya kita tidak berurusan dengan konsekuensi yang ditanggung kedepannya. Mungkin terasa enak sekarang, apa-apa tercukupi dengan fasilitas yang diberikan tante ketemu gede untuk apa coba,On? Kan untuk biaya kuliah yang makin menjulang tinggi, cari kerja yang instan dan dapat membiayai biaya kuliah padahal Ijazah kuliah tidak terlalu penting jika sudah punya uang banyak,,hahhaaa” Kata Ira sambil ketawa-ketiwi.

“ Tahu ndak, aku kesal ma beasiswa kampus, rasanya leherku seperti tercekik. Coba bayangkan masa yang dapat dana beasiswa mahasiswa yang memiliki mobil ma hp BB, sial ndak??” tanyaku pada Ira. Ira hanya mengeleng-geleng kepalanya. “ Ooohh, itu sih udah rahasia umum, jangan hiper deh On!!! Sang pemilik modal lebih berkuasa menentukan, ketimbang yang tidak memiliki modal hanya tetap berdiam diri menunggu giliran menjadi robot pekerja. Eeehh, kok jadi lari ke pemilik modal, kan beasiswa toh!!! Gurau Ira yang terlihat bingung dengan ucapannya. “ sudah deh, aku lagi kesal, apalagi kiriman uang kosku belum datang bulan ini dan parahnya lagi hutangku menumpuk ditempatmu Ira.” Kataku dengan sedih hati.

“ mmm, ndak apa-apa tar aku pinjamkan uang lagi, tenanglah. Kita kan sahabat harus saling membantu di saat senang dan susah.” Ucapan Ira benar-benar menenangkan aku.

“ Ra, dengarkan ceritaku tentang suatu impian kebenaran. Sang kakek berdiri di depan rumahnya menunggu sang cucu pulang dari ladang dan berharap cucunya membawakan jagung, umbi-umbian untuk di makan malam harinya. Eeh, malah sang cucu lupa tidak bawa apa-apa hanya mengenggam seuntai bunga teratai yang ditemukan di selokan air dipersawahan dekat ladang sang kakek dan sang cucu berseru “ kek, saya melihat suatu hal yang indah dan menarik untuk aku bawa, apa coba kek??” Tanya sang cucu sambil menjulurkan tangannya kepada kakeknya. Kakeknya sontak marah dan membentak sang cucu “ dasar, anak bodoh!!! Musim ini musim paceklik dan tidak ada makanan di rumah, kakek berharap kamu tahu cu, persediaan makanan kita sudah habis. Nanti kita mati kalau tidak ada makanan, malah bawa bunga teratai, emang bisa di makan dan emang bisa dijual?” Tanya sang kakek kepada sang cucunya yang tiba-tiba terdiam dengan menundukan kepalanya. “ Kek, selama di ladang saya tidak melihat jagung dan umbi-umbian dan saya hanya melihat hamparan tanah kering lalu saya berjalan mengelilingi perladangan kita ternyata ada persawahan dan disekitar persawahan ada selokan air yang dipenuhi bunga terai, indah sekali. Kek, Negara kita kaya sekali yahh, musim paceklik masih ada bunga terai hidup dan tumbuh tapi sayangnya bukan di ladang kita tapi dipersawahan tetangga sebelah. Hahhahah, selesai sudah ceritannya” ucap Oni yang tiba-tiba dengan bangganya bersemangat 45.

“ Kok, aku rada gak maksud ceritamu ya On???” sela Ira yang kebingungan dengan cerita Oni. “ apa? Aku juga gak maksud ceritanya cuma ngarang aja. Begini aku jelaskan, emang benar Negara kita begitu kaya akan sumber daya alam dan manusianya tetapi emang benar kita begitu kaya akan pengangguran, kemiskinan. Bayangkan deh di Indonesia kita dapat menemukan perumahan kumuh dengan orang-orang yang begitu miskin tanpa pendidikan dan mati kelaparan padahal perumahan kumuh itu dekat sekali dengan gedung-gedung pecakar langit yang isinya orang-orang berdasi dengan makanan yang berlimpah. Ironis sekali yahh, tapi mau bagaimana lagi. Indonesia, emang ada langit dan bumi. ……………………Bersambung..

————————————————————————————————————————–

Buka mata lebar-lebar dan buka pikiran sebebas-bebasnya………………

Kita dinyamankan oleh situasi, tak ada yang bisa menyalahkan………………

Persoalan terlihat hanya di atas permukaan…………

Akar-akarnya menjalar kemana-mana……………………..

Kita tetap nyaman dan berleha-leha………..

“Ra, kok aku merasa males banget kuliah yaahh, padahal biaya kuliah mahal trus ortuku kerja keras membanting tulang untuk membiayaiku.” Sahut Oni dengan menarik napas panjang, “ On, gimana mau mengubah nasip kalau males gtu, apa mau married ma saudagar kaya penghasil minyak disebrang sana tapi jadi istri ke 100nya,hhehhehe wong aku juga merasakan hal yang sama. Bosan banget.. Tawa Ira sampai termehek-mehek..

“ Cari sesuatu yang beda yuk, On. Naik gunung gtu, cari inspirasi atau ide?” Tanya Ira yang sudah selesai tertawa-tawa hingga mules tetap sanggup menyela dengan bertanya hal yang aneh untuk dilakukan. “ Bagus Ra, kita naik gunung-gunungan yuk, trus leha-leha deh..” jawab Oni dengan nada bercanda tak jelas. “ Asem tenan, On. Serius nih, bukan becandaan. Mahasiswi kaya kita ini harus punya perjuangan hidup, udah Jomblo, cwo-cwo pada kabur kalau dekatiin kita karena kita ketawa-ketiwi keras banget trus kita tuh gak ada anggun-anggunnya pantesan pada ilfeel para cowok. Wis, kapan-kapan targetiin kerja biar punya duit trus atur kuliah, sambil belajar menyelam air asin deh,” tegas Ira dengan gaya emak-emak. “ Nasipmu Ra, kagak laku-laku. Aku sih ada pujaan hati menanti disebrang sana.hahhaa… Lupakan tuh. orang baik pasti dapet jodoh yang baik juga kok.” Tegas Oni sambil mengebu-gebu. “ waah, kita ngomong tentang pendidikan aj yuk Ra, yang siswa-siswi kesurupan atau pelecehan seksual Guru pada siswi-siswinya. Kok bisa gtu ya Ra?” Tanya Oni sambil bersemangat.

“Pendidikan bahkan lembaga pendidikan di Indonesia hanya menjadi sebuah produk untuk dikomersilkan dan mahasiswa atau siswa-siswi menjadi komenditas untuk dijual di pasar industrial. Persaingan makin ketat ketika dibuka pasar bebas dan manusia Indonesia belum siap menghadapi tantangan modernisasi sebuah dunia informasi. Para tenaga kerja yang tidak mengenyam pendidikan tinggi akan tersingkir oleh pendatang-pendatang baru yang memiliki kemampuan dengan standar tinggi bahkan mesin-mesin yang didatangkan hanya untuk merampingkan biaya produksi termasuk membiayai SDM. Begitulah akar-akar dari kapitalisme buruk. Keuntungan dipegang oleh yang memiliki kekuasaan, kita tidak akan tahu apa-apa tanpa belajar.

Permasalahan yang akan timbul bukan saja keterasingan bahkan kekeringan mentalitas produktivitas ketenagakerjaan. Ada yang merasa nyaman dengan kedudukan yang diraihnya dan ada pula yang menikmati kekayaan tanpa menguras keringat sedikitpun. Patutkan kita membayar begitu rendah kepada para pekerja baik itu pembantu dirumah, buruh-buruh yang kerja keras siang dan malam? Siapa peduli yang penting aku memiliki kekayaan dengan pendidikan yang aku raih dengan membayar orang untuk mengerjakan skripsiku maupun paper-paperku. Siapa peduli dengan teriak-teriakan maupun unjuk rasa para buruh-buruh, mereka pantas berpanas-panas dan kehujanan. Siapa peduli dengan kemiskinan dan pengangguran bahkan kekurangan gizi yang dialami oleh para perempuan-perempuan bahkan anak-anak. Siapa peduli dengan kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak-anak di dalam rumah? Permasalahan pelecehan seksualitas di dunia pendidikan, rasanya tidak etis dilakukan oleh seorang pendidik apalagi seorang Guru, gimana generasi Indonesia ke depan nantinya. Dunia pendidikan memiliki cerita dibalik nilai-nilai yang diperjuangkan untuk mencerdaskan bangsa yaitu kekakuan kurikulum yang kadang tidak menumbuhkan kreativitas siswa-siswinya, kadang Guru lebih memperhatikan yang lebih pintar serta membeda-bedakan setiap siswa-siswinya. Siswa-siswi yang di nilai bodoh merasa tertekan dan belum mampu mengembangkan kecerdasannya serta siswa-siswi yang nakal di anggap orangtuanya kurang mampu mendidik di rumah sedangkan peran Guru kadang justru makin menekan dan merendahkan siswa-siswi yang mendapatkan perilaku tidak baik dirumah.” Ceramah Ira yang berkicau-kicau padahal tidak ngerti apa-apa karena sering membuat onar dikelas zaman bahula.

“ Ra, On… kalian ngobrol kok nyaring banget, sampai kedengaran di depan kosku.” Teriak Doni yang tiba-tiba menghampiri kita berdua, ingin nibrung dunk, biasalah gadis-gadis cantik selalu didatangi. hheheee. “ lho, kita lagi semangat-semangatnya ngobroliin kesurupan Don!! Eh, dimana pacar baru itu Don? Kok jarang kelihatan lagi menghampiri kekosmu.” Tanya Oni. “ kalian ini, suka mengosip. Yang sering kesurupan kebanyak Cewek-cewek toh, wong pikiran kosong trus sukanya mengosipiin orang.” Jawab Doni dengan bangganya bahwa Cowok-cowok jarang kesurupan karena pikirannya selalu penuh dengan fantasi seks,hahaha… “ Don, Gila lho ya, Otakmu tuh harus disapu bersih!!! Cakep ndak, udah gak da bagus-bagusnya, kok bisa cewek-cewek pada ngantri menghampiri kosmu toh?” Sahut Ira. “ Wah, kalian ngomongiin apa tentang aku, aku bukan gigolo ya!! Aku laki-laki baik-baik, pekerja keras, dan tidak suka main-main dalam berhubungan dengan seseorang. Emang aku Menteri Indonesia yang banyak memiliki WIL ( Wanita Idaman Lain), Ogah ya, cukup satu dan seumur hidup.” Jawab Doni dengan Tegas. “ Waahh, keren, terus dimana pacar barumu Don?” Tanya Oni. “ Gak, ada. Itu sih, pacar temenku tapi suka sama aku.hehehee.” jawab Doni sambil tertawa.

“ Ahh, kita bahas banyak hal ya, kadang hidup ini seperti gado-gado, aneka ragam permasalahan tapi jarang prestasinya. Apa-apa Korup, Korup uang, Korup waktu, Korup-korup deh.” Seru Ira dengan nada pesimis. “ Banyak hal yang dapat dilakukan yaitu mengubah diri kita sendiri dulu deh, baru memikirkan orang lain. Coba kuliahmu gimana? Mau kerja apa nih habis lulus kuliah?” jawab Oni. “ Benar, On. Sekarang pikirkan hari ini dulu, apa yang dapat dilakukan dengan semaksimal mungkin, aku pria baik kok yang tetap menanti kalian dengan begitu sabarnya, hahhhaa…” sahut Doni, yang kelihatan kehausan karena aku dan Ira tidak menyiapkan air minum dan makanan.

“ siapa yang mau sama kamu, Don. Kuliah aja belum selesai. Sudah Ke Pdean. Emang modalmu apa? Gak ada cakepnya, udah kaya burung Beo.” Seru Ira yang kesal dengan tingkah Doni yang merasa paling benar.

“ Jangan salah, gini-gini, Investasinya banyak lho. Kalau soal penampilan fisik, aku tidak terlalu peduli bisa satu hari dibersihkan pake sabun. Waah, aku punya modal kepribadian yang luar biasa yang dapat mempengaruhi orang untuk menghasilkan uang bagiku. Jadi aku tidak akan menjadi budak uang tapi uanglah yang akan berkerja bagiku. Gimana Ladies? Tertarik.”Jawab Doni. “ Sombong sekali kau Don, Buktikan aja, jangan asal ngomong. Baru kita tertarik padamu seutuhnya.” Sahut Oni dan Ira serentak.

“Pulang dulu, ya Oni dan Ira. Aku kehausan terus laper. Kalian jahat sekali, 2jam tidak apa-apa. Padahal kalau aku mengadakan seminar dan berbicara seperti ini, menghasilkan uang je.” Seru Doni yang langsung lari menuju kosnya.

“ Gila tuh cowok, tapi Doni punya semangat besar dan perjuangan sepertinya untuk memenuhi ambisinya. Kamu suka dengan Doni, On? Sepertinya dia baik dan bertanggungjawab + mandiri lagi walaupun sedikit aneh sih.” Sahut Ira sambil tersenyum. “ Doni, tidak ada hal yang menarik kalau dilihat sih bahkan aku tidak ingin melihatnya lagi datang kekosku. “ jawab Oni yang sepertinya membohongi diri sendiri. “ Sudahlah Ra, jangan bahas Doni lagi. Biarlah dia membuktikan omongannya, baru dia melamar aku. Hahahaa,” jawab Oni sambil tersenyum dan terlihat rona merah diwajahnya padahal becandaan.hhehhee,

“ Cerita lain yuk On, supaya kita punya semangat belajar dan membuka pikiran yang benar-benar bebas” seru Ira. “ Be your self, kita harus melakukan terbaik bagi diri sendiri sebelum kepada orang lain, bahkan hingga kita menjadi tua tetap menjadi contoh baik untuk anak cucu kita Ra, jangan menjual tubuh maupun merendahkan diri sendiri kepada uang walaupun dalam keadaan yang begitu susahnya. Aku yakin setiap orang memiliki mimpi yang ingin diwujudkan walaupun tidak menjadi orang yang terbesar di dunia tapi berharga di dalam keluarga besar kita Ra. Pergaulan tidak sehat bahkan pelecehan seksualitas, pendidikan yang hanya dijadikan industri kapitalis maupun akar-akar permasalahan yang menjalar kemana-mana sampai kepada korupsi yang menjadi budaya serta kerasan yang dialami oleh perempuan dan anak-anak, kemiskinan dan pengangguran. Siapa lagi kalau tidak kita yang memperjuangkan mereka yang tidak memiliki kemampuan dan mereka membutuhkan bantuan intelektual-intelektual muda untuk bangkit dari keterpurukan dengan berbagai cara, yah toh?” jawab Oni. Be Continue.

Posted in: Uncategorized