MEDIA HIBURAN MUSIK POP DI WAKTU SENGGANG SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGIS

Posted on Mei 19, 2011

0


  1. 1.     Pendahuluan

Media hiburan musik pop di waktu senggang

Mendengarkan musik menjadi suatu hal yang biasa, bahkan menghibur untuk menghilangkan kejenuhan aktivitas yang dilakukan sehari-hari, mendengarkan musik memberikan makna bagi pendengarnya untuk merasakan melodi lirik-lirik dalam lagu pop dan menyanyikan secara bebas dan beban terasa hilang. Hiburan musik pop merupakan salah satu media yang mudah di dapatkan dimana-mana, dan merupakan bagian kehidupan yang tidak pernah lepas. Industri musik telah memproduksi berbagai macam lagu pop untuk kepentingan industri sekaligus menawarkan hiburan sementara bagi orang-orang modern yang mengalami stress pekerjaan maupun permasalahan lainnya. Mendengarkan music mengalihkan perhatian sementara hingga radio maupun televisi hingga internet, telepon dipenuhi figure music-musik yang didisain untuk memenuhi keinginan masyarakat yang setiap harinya mengkonsumsi musik.

Permasalahan yang muncul adalah ketergantungan menghindari persoalan dengan mendengarkan musik bahkan menganggu ketenangan orang lain dengan menyalakan musik Pop keras-keras dan terhanyut dalam hayalan semata. Menurut Adorno dalam esainya “ On Popular Musik” ada  tiga hal spesifik tentang musik pop yaitu distandarisasikan dari hal yang begitu umum hingga segi-segi yang paling spesifik, hadirnya keberhasilan pola lirik-lirik yang menyentuh diekploitasi untuk kepentingan komersial yang memuncak pada “ Kristalisasi standar” adanya hit-hit lagu dalam sebuah tangga music  menjaga kekonsistenan para pendengar musik. Kedua, Musik pop memberikan dorongan pendengaran pasif sehingga pihak industry music memiliki strategi dalam mendapatkan keuntungan dengan menegaskan dunia seperti apa dalam imajinatif konsumsi music pop, music yang bernada serius memberikan sentuhan imajinatif keterlibatan pendengarnya dengan dunia seharusnya. Musik Pop juga memiliki korelasi non-produktif dengan kehidupan di kantor, pabrik maupun di tempat kerja. Ketegangan dan kebosanan kerja yang dialami semua orang baik laki-laki maupun perempuan serta penghindaraan terhadap kelelahan fisik dan mental di waktu luangnya. Masyarkat yang berada dalam kondisi bekerja membutuhkan stimulasi musik pop yang memuaskan imajinatif bahkan harapan pendengarnya.

Ketiga, menurut Adorno yaitu music pop beroperasi seperti “ semen sosial” fungsi sosio-psikologisnya adalah penyesuaian fisik dengan mekanisme kehidupan saat ini dalam diri konsumen musik Pop. “ penyesuaian ini memanifestasikan dirinya sendiri dalam dua tipe sosial-psikologis utama perilaku massa. Tipe penurut yang “ ritmis” dan tipe “ Emosional” serta yang pertama menari-nari dalam pemalingan perhatian pada ritme eksploitasi dan opresinya sendiri dan kedua berkubang dalam kesengsaraan yang sentimental, lupa akan kondisi eksistensi yang nyata.[1]

  1. 2.      PEMBAHASAN

KONSTRUKSI MEDIA MUSIK POP            

Music pop merupakan hiburan yang menurut Richard Dyers ( During,1993:271-272) adalah respon emosi jiwa dan perkembangannya implikasi emosi diri, yaitu suatu tanda keinginan manusia yang meronta ingin ditanggapi dan memenuhinya. Prinsip-prinsipnya seperti kesenangan yang tertanam dan menjelma dalam kehidupan manusia sehingga membentuk budaya manusia. Hiburan mendengarkan music pop diwaktu senggang memberikan kesenangan menjadi sebuah kelarutan kebutuhan manusia yang lebih besar bahkan kadang  menjadi eksistensi kehidupan manusia. Kesenangan juga membuat manusia manja dan terbiasa dengan kehidupan yang serba mengagumkan.[2]

Dalam dunia kapitalis, hiburan bahkan budaya di masyarakat menjadi produk industri seperti halnya music pop, para konsumen merasa tidak puas jika hanya sebentar mendengarkan lagu-lagu kesukaannya hanya diwaktu senggang tetapi ingin terus menerus sehingga muncul industry-industri rekaman suara, VCD lagu-lagu yang hits, bahkan konser-konser para penyanyinya dan masyarakat begitu antusiasnya mengidolakan penyanyi-penyanyi music pop sehingga menirukan segala atribut pakaian hingga perilakunnya. Pada Konteks ini, Theodor Adorno dan Max Horkheimer mengatakan bahwa budaya industry adalah media tipuan. Kedua tokoh itu mempercayai bahwa hilangnya keperibadian yang tulus seperti kemampuan menggambarkan keadaaan yang nyata karena budaya telah berubah menjadi alat industry serta menjadi standar ekonomi kapitalis.  Musik Pop merupakan bagian dari budaya populer serta menjadi budaya elite dalam masyarakat tertentu sehingga ada sentuhan hegemoni  serta dorongan membentuk suatu budaya yang mempertontonkan hiburan dan memberikan kesan yang konsumtif.

Kepentingan pihak produksi music pop yaitu bagaimana mengkonstruksi kebutuhan music pop sebagai bagian dari kehidupan manusia yang ingin lepas dari aktivitas yang membosankan dengan mendengarkan music maupun mengikuti konser-konser bahkan mengikuti menyanyi dengan merasakan suasana hati sama dengan apa yang digambarkan lirik-lirik lagu. Penciptaan citra bahkan makna yang terkandung di dalam lirik-lirik lagu membangun kesadaran palsu untuk menikmati kesenangan yang luar biasa serta sifat ketergantungan sebuah pelarian dari kegelisahan emosi manusia. Konstruksi media music pop dilakukan secara bertahap dan berlahan-lahan, dirancang berdasarkan konsep logika pemasaran perilaku sosial masyarakat. Konstruksi yang terkait bahasa dalam lirik-lirik lagu, menurut Berger dan Luckmann ( 1990: 92) menjadi sebuah tempat penyimpanan kumpulan besar endapan-endapan kolektif yang dapat diperoleh secara monotetik artinya sebagian keseluruhan yang kohensif dan tanda merekonstruksikan lagi proses pembentukannya semula. Bahasa yang melankolis digunakan sebagai signifikasi makna-makna yang dipahami sebagai pengetahuan yang relevan dengan masyarakatnya sebagaimana Berger dan Luckmann ( 1990: 100) mengatakan pengetahuan itu dianggap relevan bagi semua orang dan sebagian lagi relevan bagi semua orang dan sebagian lagi hanya relevan bagi tipe-tipe tertentu.

Dalam gagagasan konstruksi sosial yang dibangun dari lagu-lagu pop menjadi bagian yang tidak terhindarkan dalam mengisi waktu senggang bahkan muncul-munculnya tempat karoke yang kebanyakan berisi music-musik pop yang sedang hit serta digandrungi oleh kaum remaja bahkan segala kalangan usia. Gagasan konstruksi sosial telah dikoreksi oleh gagasan dekonstruksi yang melakukan interpretasi terhadap teks, wacana dan pengetahuan masyarakat. Gagasan ini dimulai oleh Derrida ( 1978) yang terkenal dengan gagasan-gagasan dekonstruksi yaitu melahirkan tesis-tesis keterkaitan dengan kepentingan dan metode penafsiran atas realitas sosial termasuk dalam hal ini budaya pop music. Kekaguman masyarakat dalam mendengarkan bahkan menyanyikan lagu dimanfaatkan benar-benar oleh para pemilik modal untuk memproduksi keping-keping DVD, CD, Kaset lagu, bahkan di dalam televise, radio, computer, telefon serta alat-alat elektronik lainnya dipenuhi oleh beragam lagu-lagu yang menarik serta alat-alat elektronik lainnya dipenuhi oleh beragam lagu-lagu yang sedang hits.

KONSUMSI EKONOMI MUSIK POP

Lirik-lirik lagu yang didengarkan membuat para pendengarnya terlena dan memasuki dunia imajinatif untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan akibat aktivitas manusia yang terus menerus berkerja bahkan waktu senggang digunakan sebagai waktu kerja mengkonsumsi music pop. Menurut Griel Marcus sampaikan adalah bunyi yang dapat kita rasakan lebih dahulu sebelum menjadi kenyataan-kenyataan untuk dipahami. Penulis lirik berkerja berdasarkan kewajaran bahasa sehingga kata-kata dan frasa yang paling lumrah menjadi tampak penuh acuan dan lelucon lihai. Budaya music pop dalam lagu, majalah, konser, festival, music, wawancara dengan bintang pop, film dan sebagainya membantu memperlihatkan suatu pemahaman identitas di kalangan muda untuk dikonsumsi. Menurut Hall dan Whannel membandingkan music pop dengan music jazz tanpa mengunggulkan music jazz secara estetis maupun emosional jauh lebih baik karena suatu penghargaan ketimbang music pop, music klasik bahkan music jazz adalah music populer. Musik pop mempertontonkan suatu realisme emosional antara laki-laki dan perempuan  yang mengidentifikasikan diri dengan kolektif dengan fiksi-fiksi belaka.

Hal menonton media audiovisual terkesan lucu terlihat bahwa masyarakat seakan-akan hidup dalam dunia imajinatif, pasif dan menjadi suatu kebiasaan dalam menonton. Disini peran para Copywriter dan Visualizer berusaha tidak monoton dalam merancang memberikan  sentuhan music dengan alunan-alunan yang merdu yang mendorong masyarakat merasa sentuhan situasi yang ditayangkan bahkan music yang berisi kegembiran, kesedihan, percintaa  bahkan berbau kekerasan ditampilkan dalam bentuk seperti realitas sosial ynag terjadi. Pihak produksi rekaman maupun industry-industri music mengambil banyak keuntungan dari media music pop yang digandrungi oleh semua kalangan, suara manusia di jadikan komoditi yang benar-benar memberikan profit bagi kepemilikan modal, penjualan penampilan, suara bahkan lirik-lirik lagu dengan suasana emosional yang menyentuh memberikan nilai yang besar bagi industry pemasaran music. Banyak orang harus mengantri berjam-jam demi untuk melihat konser penyanyi yang sedang pop dengan lagu-lagu yang sering dinyanyikan di media televise, radio, internet, telepon seluler bahkan di ruang public untuk mengisi waktu luang menunggu, maupun dalam aktivitas kerja dan music pop merupakan bagian kehidupan yang tidak terhindari sehingga menjadi produk yang berharga untuk dijualbelikan.

  1. 3.      KESIMPULAN

Media menjadi sebuah agen perubahan yang besar terkait perubahan secara mikro dan makro yang ikut andil dalam berperan melanggengkan struktur sosial serta membuka lebar liberalisasi di mana ada suatu kebebasan dalam pasar global, ikut tersentuhnya media audiovisual yang populer di kalangan masyarakat adalah media music pop yang berisi beragam lirik-lirik lagu yang tampilan/tayangan serta menyajikan berbagai sajian nontonan yang menghibur, menciptakan emosional bahkan adopsi perilaku yang ditampilkan sebagai realitas sosial yang ada dan tentunya bukan berarti menyajikan fakta yang sebenarnya baik yang berupa data, informasi. Media music pop yang ditampilkan media televisi memberikan pengaruh yang besar terhadap penciptaan konstruksi sosial yang terjadi, bahkan menciptakan kelas sosial, adanya perbedaan gender dalam menanggapinya sebagai pendengar serta perilaku-perilaku yang memberikan kesempurnaan hidup yang banyak diimpikan masyarakat.

Media music pop adalah media yang mudah untuk mempersuasif masyarakat dalam  pemaknaan kehidupan yang keras, bahagia, sedih dan berbagai perasaan,  pemaknaan yang tersirat memberikan makna yang sungguh realitas terjadi, di mana pemaknaan yang tersirat memberikan makna yang sungguh realitas terjadi, di mana pemaknaan ini mengandung kontradiksi yang berlawanan, di mana terciptannya kesenjangan sosial yang akan terjadi, bahwa iklan memberikan perbedaan-perbedaan terkait realitas yang akan dibangun walaupun tujuan awalna sebagai sarana memperkenalkan produk serta menjualnya tetapi pemaknaan bukan saja menjual produk tetapi memberikan pemahaman yang terkait budaya serta menjadi suatu kebiasaan yang tidak terlepas dari kehidupan yaitu penanaman ideologi-ideologi yang kontras dengan realitas sosial yang ada dan hanya menciptakan kesadaran palsu semata, di mana kapitalisme menjadi ujung tombak dalam mencapai ke untungan sehingga strategi yang efektif untuk melanggengkan adalah dengan media music pop  di mana produk-produk rekaman suara, tampilan video yang telah di produksi dapat di terima masyarakat luas bahkan menjadi produk-produk yang dapat menembus pasar global yang menaikkan ranking, lewat media khususnya dalam hal penawaran penjualan yang terkait pasar bahkan menciptakan budaya konsumerisme dan berkembangkan pasar-pasar modern melalui penayangan  video klip music pop sehingga masyarakat menjadi terhegemoni dan terkonstruksi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barthes, Roland. 1972. Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa : Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol dan Representasi. Yogyakarta : JALASUTRA

Lull, James. 1997. Media Komunikasi Kebudayaan suatu Pendekatan Global. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Rusbiantoro, Dadang. 2008. Generasi MTV. Yogyakarta: JALASUTRA

Storey, John. 1996. Cultural Studies dan Kajian budaya Pop. Yogyakarta: JALASUTRA

Sztompka, Piotr. 1993. The Sosiology of Social Change. Jakarta: PRENADA MEDIA GROUP

Tester, Keith. 2003. Media, Culture and Morality. Yogyakarta: Kreasi Wacana Yogyakarta


[1] Cultural Studies dan kajian budaya Pop. 1996. Hal: 119

[2] Bungin, Burhan.2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Hal 51

Posted in: Uncategorized