Sebuah kasih dalam sanubari

Posted on Oktober 14, 2010

0



Oleh: Theresia Hesti Kurniawati

Ketika hatiku dalam kegelisahan karena permasalahan datang bertubi-tubi…

Ketika hatiku risau akan ketidakpastian hidup,,,

Ketika hati di landa sepi dan derita…

Tetapi tak pernah Engkau meninggalkan diriku sendiri,,,

Tuhan, Engkau tidak menutup mata untuk kami..

Ketika kami harus mati karena kondisi,,

Kami merasa senang dan bahagia…

Apa daya kami menghadapi kepentingan-kepentingan egoistis dunia

Kami hanya anak-anak yang tak dapat memilih dimana kami dilahirkan..

Hanya rasa syukur itulah yang kami ucapkan…

 

Arisa, adalah nama terindah bagiku, usia 13 tahun dengan tubuh yang kurus dan berkulit gersang karena sengatan sang mentari yang selalu menjadi selimut untuk kulit-kulit kami di tempat perkumuhan, aku mulai berpikir dan melihat atas segala kondisi dalam tulisan dan ucapan dalam pikiran walaupun keadaan tak pernah memberikan aku kesempatan hidup dalam dunia pendidikan dan dunia modern hingga waktu dan tangan Kuasa-Nya mengubah kehidupanku.

Bapakku dan ibuku berkerja siang dan malam demi menghidupi aku dan adikku tetapi semuanya kadang berubah dan kami merasa bahagia jika hanya ada nasi hangat dihadapan kami untuk di makan berempat maupun bertiga saja, kadang perjuangan kami begitu berat dalam dunia kemiskinan, walaupun tetangga sama-sama kekurangan, kadang kami berselisih, kadang saling membantu tentu segalanya tidak normal saja.

Malam yang sepi di dalam kamar yang remang-remang karena lampu listrik belum lama kami dapatkan karena bantuan pemerintah daerah sebagai suatu pembangunan modern serta melihat kondisi perkumuhan yang kadang gelap dan menjijikan jika dilihat apalagi ditempati. Kadang kami satu keluarga  harus menghadapi pengusuran rumah jika tidak terlalu sedap dipandang mata, apalagi lokasi tempat keluarga kami dekat sekali dengan gedung-gedung mewah dan sungai yang makin tercemar limbah akibatnya banyaknya industri baik yang skala besar maupun kecil.

Program pemberdayaan pembangunan manusia dari kalangan Universitas maupun lembaga swadaya masyarakat kadang di adakan, lokasi kamilah yang selalu menjadi objek penelitian untuk proposal yang disetujui oleh pemerintah, pembelajaran kami dapatkan dari mereka yang memiliki nasip yang lebih beruntung daripada kami, tetapi masalah kami tidak pernah selesai oleh pembangunan manusia yang berusaha menyadarkan kami yang tidak pernah berkelanjutan programnya, banyak berita-berita menceritakan bahwa kehidupan kaum pinggiran lebih baik tetapi apakah ini benar, padahal kami kadang harus berbuat yang tidak bermoral, kami tidak memiliki modal apa-apa untuk membangun, bahkan kadang kami menggunakan kelicikan untuk berusaha mempertahankan hidup, pergulatan yang berat ada dipunggung kami bahkan anak-anak kecil yang tidak bersekolah harus menanggung beban orangtua yang kadang tidak mampu berkerja dan yang lebih mengerikan lagi pihak-pihak perusahaan ingin menyingkirkan tempat perkumuhan yang kami tinggali, kadang diberikan uang banyak sekali agar kami yang tinggal di tempat perkumuhan dapat pindah dari lokasi dekat perusahaan –perusahaan besar itu.

Ketika sudah menjelang hari raya Idul Fitri, kadang ada penghuni baru datang di komunitas perkumuhan kami, mereka kebanyakan dari desa yang datang ke kota untuk mengadu nasip lebih baik tetapi malah mendapatkan masalah persaingan hidup dikota dan berpikir untuk pulang kekampung tetapi disisi lain mereka tidak lagi sanggup melihat kedua orangtua maupun anak-anak mereka di kampung halaman dalam kondisi yang sama. Pikiranku jenuh dalam doa kepada-Nya yang setiap saat maupun detik aku panjatkan, apakah inilah  suatu keberuntungan kami ataukah Tuhan menentukan derita kami hingga ada kemiskinan dan kebodohan.

Aku tidak tahan lagi mencium bau busuk ketika harus tidur beralaskan gulungan pakaian, hatiku merintih bahkan air mata tidak lagi keluar dari mataku. Aku hanya berdoa, syukur atas segalanya, semoga aku dan keluarga kami di tempat perkumuhan dapat melihat sang mentari menghangatkan tubuh kami dan hujan membasahi tubuh kami besok hari. Apalah daya kami, Tuhan.

Aku mulai menutup mata untuk tidur bersama adiku laki-laki yang berusia 5 tahun, Ario namanya dan tidak lupa aku melihat raut muka Bapakku dan Ibuku yang makin tua saja dengan garis-garis kerut dan rambut yang makin memutih serta badan yang penuh kuratan kekuatan untuk bertahan. Aku tidak mempersoalkan lagi, aku tidak berpendidikan dan harus menunggu siap-siap di nikahkan oleh orangtua untuk lepas dari mereka. Inilah pikiranku yang terlelap oleh malam.

“ Mbak Arisa bangun!!! , ibu,,ibu,,ibu,,panas,,panas,,” teriak Ario hingga membangunkan aku pagi itu. “ kenapa dek? Ibu kenapa?” tanyaku kepada adiku sambil mengusap-usap mata yang terbangun dari tidur. “ Oh, Tuhan. Ibu,Ibu bangun!!! Bapak dimana?” teriakku. Aku mulai berlari-lari sekuat tenaga pagi itu untuk meminta bantuan kepada tetangga sebelah. “ Mbak Rima, Pak le Sugeng, Mbak Rahayu, tolong aku pinjam uang dulu untuk membawa Ibu ke puskesmas” teriakku kepada mereka dalam larian dan hembusan sang bayu pagi itu, semoga mereka dapat membantu, walaupun keluarga kami sering berulang kali minta bantuan karena Ibuku selalu sakit-sakitan karena pekerjaan yang terus berulang kali hanya pencari sampah dan barang-barang rongsokan/bekas di tempat pembuangan sampah akhir untuk dijual lagi. Inilah nasip kami sebagai anak-anak pemulung. Bermandikan bau busuk, hingga penyakit kulit menjadi teman setia.

“ lha, piye toh, kemarin sakit sekarang sakit lagi, mana Mbak Rima punya uang, Mbak Rima aja masih punya bayi yang butuh hidup juga toh, gak bisa bantu. Coba minta bantuan mas Karso, dia kan dagangan korannya lumayan laku toh!!! Sahut Mbak Rima dengan kesal karena teriakanku. Aku mulai berlari menemui Pak Le Sugeng daripada Mas Karso yang dulu sering mengangguku dengan pelecehan fisik bahkan gadis-gadis lugu yang ada diperkumuhan di pelecehkan secara seksual, kadang ada sisi kebaikan dari Mas Karso mau membantu membangun tempat tinggal dengan mencari papan, kayu bahkan kardus dan bambu-bambu serta mencarikan pekerjaan untuk kaum laki-laki yang menganggur sebagai pengamen, pemulung dan sopir angkot walauapun orangnya begitu menyebalkan bagiku, cerewet sekali kalau sudah ketemu para perempuan-perempuan cantik apalagi Mbak Rahayu.

“ Mbak Rahayu,,,,,” teriakku memanggil Mbak Rahayu tetapi kurasa masih tidur, mungkin kecapekan karena malam bekerja dan tidak ada sahutan dari dalam kamarnya, kata Pak Le Sugeng, Mbak Rahayu bekerja sebagai pelayan laki-laki yaitu pelacur. Aku sendiri berusaha memahaminya dan ada perasaan sayang dengan Mbak Rahayu karena dia seperti kakak bagiku. Hasil dari pekerjaanya kadang membantu sesamanya yang begitu kekurangan, termasuk keluargaku. Itulah Mbak Rahayu yang cantik dan murah hati di mataku.

Mbak Rahayu juga tidak sungan untuk menceritakan kepadaku tentang pengetahuan pekerjaanya bahwa jangan sekali-sekali meniru perbuatannya kalau tidak terjepit dalam kondisi yang begitu serius tetapi Mbak Rahayu tetap meneruskan pekerjaanya karena Mbak Rahayu tidak memiliki keterampilan lagi walaupun begitu dia tetap berdoa kepada Tuhan untuk setiap malam agar tetap bertahan hidup dan tidak terkena penyakit kelamin yang mematikan. Mbak Rahayu memiliki pendidikan sekolah menengah atas tetapi kesempatan tidak memihaknya bahkan tekanan keluarga mengharuskkan bekerja karena adik-adiknya begitu banyak. Aku berlari ke tempatnya Pak Le Sugeng untuk meminta bantuan.

“ Pak Le Sugeng, mbok aku dipinjami uang dulu, ibu sakit, kami tidak ada uang lagi, bapak pergi gak tahu kemana padahal semalam ada.” Pintaku kepada Pak Le Sugeng sambil teriak-teriak membangunkan Pak Le yang kelelahan bekerja semalamnya.

“ Walah..piye, kemarin juga masih hutang toh? Bayarnya mau kapan? Kok dah mau pinjem lagi. Bapakmu mana? Hutang Bapakmu tuh juga banyak banget, gak da.” Jawab Pak Le Sugeng dengan agak kesal karena tiba-tiba aku membangunkan tidurnya. “ Tolonglah Le,,Ibu sakit parah, tolonglah Le, aku akan membayarnya secepatnya kalau aku besok ngamennya dapat uang banyak. Tolonglah…” Pintaku dengan saat meminta berbelas kasihan.

“ Yo, nih ada 20 ribu, pake buat beli obat, trus besok uangnya dikembalikan, Pak Le dah ngak punya duet lagi, Bu Le Sumi kan lagi hamil besar toh dan dah bulan akhir untuk melahirkan, jadi hutang-hutang harus dibayar secepatnya.” Jawabnya dengan sabar kepadaku.

“ Ya, aku akan membayarnya lebih dari pinjamku Pak Le. Makasih Pak Le.”  Wah, Pak Le sungguh memang baik, padahal anaknya ada lima orang trus istrinya lagi hamil tua lagi, kerjaan Pak Le hanya sopir angkot tetapi karena ketekunannya, kerja keras serta ketaatannya berdoa walaupun kadang orangnya kasar, anaknya yang pertama Mas Haryo sudah kerja di supermarket di pusat kota dan anaknya kedua sih, Mbak Tina hanya dapat menikmati sekolah menengah pertama walaupun hanya sekolah menengah pertama tetapi sudah kerja di luar negeri  dan sekarang kerja jadi TKW di Arab.

Aku berlari-lari pulang kerumah, berharap keadaan ibu sudah membaik, tetapi aku khawatir dengan adikku Ario yang dari tadi malam, mukanya pucat sekali dan belum makan lagi.  “ Ibu, Ibu,,cepat sembuh ya,.aku mau beli obat dulu. Dek tungguiin ibu dirumah ya.!!” Kataku dengan lembut dengan adikku tersayangku yang berada di samping ibuku.

Perjalanan panjang sering seperti ini, aku pikir bapakku selalu tidak ada ketika ibu sakit, kemana Bapakku pergi? Saat darurat seperti ini, malah aku harus mengerjakan sendiri, Bapakku pasti pergi ketempat istri barunya atau main-main lagi. Aku bingung mengapa, Ibuku selalu tabah saat tangan ringan Bapakku menampar muka ibuku dan hujatan kasar di terimanya, dari kecil aku melihatnya. Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi, aku ingin punya impian bersekolah dan berbagi untuk kemanusiaan bukan lagi menjadi penerus generasi kemiskinan keluarga. Tetapi apakah ini hanya impian dari seorang anak gadis pemulung. Aku mencoba berlari sekencangnya untuk menembus kehidupan.  BRAKKKKK…inilah kiamat bagiku. Tiba-tiba yang tidak pernah aku duga dalam kehidupanku…aku berlari kencang dengan bawa obat untuk ibu dan makanan untuk dimakan pagi itu. Mataku melihat bahwa perkampungan kumuh kami penuh api,,api,,dimana-mana ada api, dimana ibu dan Ario,,???

“ kebakaran,, kebakaran,,,kebakaran,,air..air..cepat,,” teriak-teriak orang-orang di tempat perkampungan kumuh di pinggiran kota..

Aku tersungkur,,aku lemas dan terasa ada seribu kaki yang meninjak-injak tubuhku yang kurus di tanah,,aku seperti masuk dalam dunia yang tidak pernah aku lihat. Tersadar dalam bilik-bilik penuh ratapan dan tangisan,,Oh, Tuhan. Apa ini??? Inikah nilai hidupku, kesusahan selalu seperti lingkaran setan. Terkubur dalam sesuatu impian, aku tetap bersyukur dalam kekuatan diri, kasih ibu dan adikku, tetanggaku, Pak Le Sugeng, Mbak Rima, Mbak Rahayu, Mas Karso, Bapakku yang masih aku ingat jasanya kepadaku. Inilah nilai syukurku. Aku terjatuh dalam kondisi ini.Perih, melupakan tawa canda bersama keluarga, bau busuknya sampah dan baju yang aku pakai, wajahku yang makin menghitam mengkilat. Cukuplah Tuhan atas kasih sayang keluargaku yang beranekaragam.

Dettakkkk,,,rasa sakit, pilu,,aku harus bertahan demi perubahan hidup, Tuhan biarkan tangan-Mu yang menguasai hatiku untuk bertahan, berikan kekuatan, jangan tinggalkan aku dalam kesendirian, jangan lepaskan tangan-Mu yang perkasa. Aku lemah dihadapan-Mu,  Syukurku tak pernah aku tinggalkan dalam berbagi dalam suka, tawa, kenikmatan sang mentari dan hujan yang membasahi bumi, aku ingin berjuang untuk diriku dan orang-orang yang aku kasihi. Hatiku dan badanku hanya milik-Mu. Tak pernah aku tidak mengasihi orang-orang disekitarku dengan segala apa yang dilakukan. Ada suka dan duka, Aku terbangun dari tempat tidur yang reot dan penuh jeritan.  Inilah kuasa-Nya kepadaku. Melihat kedukaan dalam sebuah kegembiran.

Duka itu belum sembuh benar, aku belum menghilangkan dari ingatanku. Akhirnya tidak ada lagi yang tersisa,,kebakaran melenyapkan semua isinya. Ibu, adikku Ario harus bersatu dalam dunia alam kehidupan dan kembali kepada-NYA. Teriak-teriakan kebakaran di perkumuhan pinggiran kota melenyapkan sekitar 7 tempat tinggal perkumuhan yang terbuat dari papan dan kardus serta bambu-bambu yang mudah terbakar, aku tidak tahu berasal dari mana api itu,,Semua lenyap.. seperti mimpi hilang di makan kabut padahal perusahaan-perusahaan di dekat lokasi perkumuhan sedang merayakan kemenangan atas berhasilnya proyek bangunan fisik yang mewah  dan  simpati saja tidak lagi kami terima dengan adanya permasalahan kami yang mengalami pembakaran tempat perkumuhan yang akan dihancurkan digantikan bangunan  yang modernitas. Kemana kami akan berpergi jika pendidikan tidak kami terima. Membuat lagi bangunan tempat perkumuhan untuk kami tetap hidup.

“ Tidak,,,tidak,,Tuhan,,apakah inikah rencana-Mu…..” teriaku. Aku terjatuh lemas dalam kesakitan.

Impian bersekolah hanya tinggal impian, menulis dan membaca saja tidak bisa, aku tidak memiliki keterampilan lagi hingga suatu hari yang panjang di usiaku 24 tahun, aku dapat duduk menikmati udara yang sejuk dari alam menyapu mukaku yang berkaca dalam sebuah gedung institusi pendidikan dan lembaga kemanusiaan. Inilah perjalanan hidup yang panjang, penuh rintangan hingga aku mencapainya atas bantuan banyak manusia ciptaan-Nya.

Tentu saja, Tuhan tidak pernah diam, DIA memiliki rencana terindah-Nya untuk diriku sendiri dan banyak orang. Aku akan membagi ilmu pengetahuan yang aku dapatkan untuk sesamaku bahkan aku mengetahui sedikit pemaknaan akan hidup dimana sisi kemanusiaan, di mana sisi Ketuhanan jika permasalahan selalu ada. Aku bersyukur atas segala perbedaan dalam dunia yang tidak dapat aku menduganya karena Engkau Tuhan, pemberi dalam segala berkat atas kerja usaha kami dan atas rasa berbagi dan mencintai sesama dengan hati yang tulus untuk melayani sesama tanpa melihat latar belakang dengan kecedasan yang di miliki terutama iman. Terima kasih atas segala kehidupan yang penuh warna-warni di dalam taman kehidupan di jagat raya ini.

 

Tabir kehidupan menemukan kedalaman jiwa….

Kehidupan adalah panggung yang penuh peran-peran yang selalu berubah..

Kebaikan dan keburukan akan dipelajari dalam sisi kehidupan..

Neraka dan surga bagaikan suatu tujuan hidup yang tentu tidak dapat kita menduganya..

Arah ini adalah hidup atau mati dalam genggaman kuasa ilahi-Nya.

Manusia memiliki pikiran yang luar biasa tak terbatas tetapi Tuhan membatasi..

Alam pun bereaksi atas segala perbuatan manusia..

Kembali melihat hati sanubari terdalam,,

Bahwa manusia adalah ciptaan-Nya..

 

 

Oleh: Theresia Hesti Kurniawati

Ketika hatiku dalam kegelisahan karena permasalahan datang bertubi-tubi…

Ketika hatiku risau akan ketidakpastian hidup,,,

Ketika hati di landa sepi dan derita…

Tetapi tak pernah Engkau meninggalkan diriku sendiri,,,

Tuhan, Engkau tidak menutup mata untuk kami..

Ketika kami harus mati karena kondisi,,

Kami merasa senang dan bahagia…

Apa daya kami menghadapi kepentingan-kepentingan egoistis dunia

Kami hanya anak-anak yang tak dapat memilih dimana kami dilahirkan..

Hanya rasa syukur itulah yang kami ucapkan…

 

Arisa, adalah nama terindah bagiku, usia 13 tahun dengan tubuh yang kurus dan berkulit gersang karena sengatan sang mentari yang selalu menjadi selimut untuk kulit-kulit kami di tempat perkumuhan, aku mulai berpikir dan melihat atas segala kondisi dalam tulisan dan ucapan dalam pikiran walaupun keadaan tak pernah memberikan aku kesempatan hidup dalam dunia pendidikan dan dunia modern hingga waktu dan tangan Kuasa-Nya mengubah kehidupanku.

Bapakku dan ibuku berkerja siang dan malam demi menghidupi aku dan adikku tetapi semuanya kadang berubah dan kami merasa bahagia jika hanya ada nasi hangat dihadapan kami untuk di makan berempat maupun bertiga saja, kadang perjuangan kami begitu berat dalam dunia kemiskinan, walaupun tetangga sama-sama kekurangan, kadang kami berselisih, kadang saling membantu tentu segalanya tidak normal saja.

Malam yang sepi di dalam kamar yang remang-remang karena lampu listrik belum lama kami dapatkan karena bantuan pemerintah daerah sebagai suatu pembangunan modern serta melihat kondisi perkumuhan yang kadang gelap dan menjijikan jika dilihat apalagi ditempati. Kadang kami satu keluarga  harus menghadapi pengusuran rumah jika tidak terlalu sedap dipandang mata, apalagi lokasi tempat keluarga kami dekat sekali dengan gedung-gedung mewah dan sungai yang makin tercemar limbah akibatnya banyaknya industri baik yang skala besar maupun kecil.

Program pemberdayaan pembangunan manusia dari kalangan Universitas maupun lembaga swadaya masyarakat kadang di adakan, lokasi kamilah yang selalu menjadi objek penelitian untuk proposal yang disetujui oleh pemerintah, pembelajaran kami dapatkan dari mereka yang memiliki nasip yang lebih beruntung daripada kami, tetapi masalah kami tidak pernah selesai oleh pembangunan manusia yang berusaha menyadarkan kami yang tidak pernah berkelanjutan programnya, banyak berita-berita menceritakan bahwa kehidupan kaum pinggiran lebih baik tetapi apakah ini benar, padahal kami kadang harus berbuat yang tidak bermoral, kami tidak memiliki modal apa-apa untuk membangun, bahkan kadang kami menggunakan kelicikan untuk berusaha mempertahankan hidup, pergulatan yang berat ada dipunggung kami bahkan anak-anak kecil yang tidak bersekolah harus menanggung beban orangtua yang kadang tidak mampu berkerja dan yang lebih mengerikan lagi pihak-pihak perusahaan ingin menyingkirkan tempat perkumuhan yang kami tinggali, kadang diberikan uang banyak sekali agar kami yang tinggal di tempat perkumuhan dapat pindah dari lokasi dekat perusahaan –perusahaan besar itu.

Ketika sudah menjelang hari raya Idul Fitri, kadang ada penghuni baru datang di komunitas perkumuhan kami, mereka kebanyakan dari desa yang datang ke kota untuk mengadu nasip lebih baik tetapi malah mendapatkan masalah persaingan hidup dikota dan berpikir untuk pulang kekampung tetapi disisi lain mereka tidak lagi sanggup melihat kedua orangtua maupun anak-anak mereka di kampung halaman dalam kondisi yang sama. Pikiranku jenuh dalam doa kepada-Nya yang setiap saat maupun detik aku panjatkan, apakah inilah  suatu keberuntungan kami ataukah Tuhan menentukan derita kami hingga ada kemiskinan dan kebodohan.

Aku tidak tahan lagi mencium bau busuk ketika harus tidur beralaskan gulungan pakaian, hatiku merintih bahkan air mata tidak lagi keluar dari mataku. Aku hanya berdoa, syukur atas segalanya, semoga aku dan keluarga kami di tempat perkumuhan dapat melihat sang mentari menghangatkan tubuh kami dan hujan membasahi tubuh kami besok hari. Apalah daya kami, Tuhan.

Aku mulai menutup mata untuk tidur bersama adiku laki-laki yang berusia 5 tahun, Ario namanya dan tidak lupa aku melihat raut muka Bapakku dan Ibuku yang makin tua saja dengan garis-garis kerut dan rambut yang makin memutih serta badan yang penuh kuratan kekuatan untuk bertahan. Aku tidak mempersoalkan lagi, aku tidak berpendidikan dan harus menunggu siap-siap di nikahkan oleh orangtua untuk lepas dari mereka. Inilah pikiranku yang terlelap oleh malam.

“ Mbak Arisa bangun!!! , ibu,,ibu,,ibu,,panas,,panas,,” teriak Ario hingga membangunkan aku pagi itu. “ kenapa dek? Ibu kenapa?” tanyaku kepada adiku sambil mengusap-usap mata yang terbangun dari tidur. “ Oh, Tuhan. Ibu,Ibu bangun!!! Bapak dimana?” teriakku. Aku mulai berlari-lari sekuat tenaga pagi itu untuk meminta bantuan kepada tetangga sebelah. “ Mbak Rima, Pak le Sugeng, Mbak Rahayu, tolong aku pinjam uang dulu untuk membawa Ibu ke puskesmas” teriakku kepada mereka dalam larian dan hembusan sang bayu pagi itu, semoga mereka dapat membantu, walaupun keluarga kami sering berulang kali minta bantuan karena Ibuku selalu sakit-sakitan karena pekerjaan yang terus berulang kali hanya pencari sampah dan barang-barang rongsokan/bekas di tempat pembuangan sampah akhir untuk dijual lagi. Inilah nasip kami sebagai anak-anak pemulung. Bermandikan bau busuk, hingga penyakit kulit menjadi teman setia.

“ lha, piye toh, kemarin sakit sekarang sakit lagi, mana Mbak Rima punya uang, Mbak Rima aja masih punya bayi yang butuh hidup juga toh, gak bisa bantu. Coba minta bantuan mas Karso, dia kan dagangan korannya lumayan laku toh!!! Sahut Mbak Rima dengan kesal karena teriakanku. Aku mulai berlari menemui Pak Le Sugeng daripada Mas Karso yang dulu sering mengangguku dengan pelecehan fisik bahkan gadis-gadis lugu yang ada diperkumuhan di pelecehkan secara seksual, kadang ada sisi kebaikan dari Mas Karso mau membantu membangun tempat tinggal dengan mencari papan, kayu bahkan kardus dan bambu-bambu serta mencarikan pekerjaan untuk kaum laki-laki yang menganggur sebagai pengamen, pemulung dan sopir angkot walauapun orangnya begitu menyebalkan bagiku, cerewet sekali kalau sudah ketemu para perempuan-perempuan cantik apalagi Mbak Rahayu.

“ Mbak Rahayu,,,,,” teriakku memanggil Mbak Rahayu tetapi kurasa masih tidur, mungkin kecapekan karena malam bekerja dan tidak ada sahutan dari dalam kamarnya, kata Pak Le Sugeng, Mbak Rahayu bekerja sebagai pelayan laki-laki yaitu pelacur. Aku sendiri berusaha memahaminya dan ada perasaan sayang dengan Mbak Rahayu karena dia seperti kakak bagiku. Hasil dari pekerjaanya kadang membantu sesamanya yang begitu kekurangan, termasuk keluargaku. Itulah Mbak Rahayu yang cantik dan murah hati di mataku.

Mbak Rahayu juga tidak sungan untuk menceritakan kepadaku tentang pengetahuan pekerjaanya bahwa jangan sekali-sekali meniru perbuatannya kalau tidak terjepit dalam kondisi yang begitu serius tetapi Mbak Rahayu tetap meneruskan pekerjaanya karena Mbak Rahayu tidak memiliki keterampilan lagi walaupun begitu dia tetap berdoa kepada Tuhan untuk setiap malam agar tetap bertahan hidup dan tidak terkena penyakit kelamin yang mematikan. Mbak Rahayu memiliki pendidikan sekolah menengah atas tetapi kesempatan tidak memihaknya bahkan tekanan keluarga mengharuskkan bekerja karena adik-adiknya begitu banyak. Aku berlari ke tempatnya Pak Le Sugeng untuk meminta bantuan.

“ Pak Le Sugeng, mbok aku dipinjami uang dulu, ibu sakit, kami tidak ada uang lagi, bapak pergi gak tahu kemana padahal semalam ada.” Pintaku kepada Pak Le Sugeng sambil teriak-teriak membangunkan Pak Le yang kelelahan bekerja semalamnya.

“ Walah..piye, kemarin juga masih hutang toh? Bayarnya mau kapan? Kok dah mau pinjem lagi. Bapakmu mana? Hutang Bapakmu tuh juga banyak banget, gak da.” Jawab Pak Le Sugeng dengan agak kesal karena tiba-tiba aku membangunkan tidurnya. “ Tolonglah Le,,Ibu sakit parah, tolonglah Le, aku akan membayarnya secepatnya kalau aku besok ngamennya dapat uang banyak. Tolonglah…” Pintaku dengan saat meminta berbelas kasihan.

“ Yo, nih ada 20 ribu, pake buat beli obat, trus besok uangnya dikembalikan, Pak Le dah ngak punya duet lagi, Bu Le Sumi kan lagi hamil besar toh dan dah bulan akhir untuk melahirkan, jadi hutang-hutang harus dibayar secepatnya.” Jawabnya dengan sabar kepadaku.

“ Ya, aku akan membayarnya lebih dari pinjamku Pak Le. Makasih Pak Le.”  Wah, Pak Le sungguh memang baik, padahal anaknya ada lima orang trus istrinya lagi hamil tua lagi, kerjaan Pak Le hanya sopir angkot tetapi karena ketekunannya, kerja keras serta ketaatannya berdoa walaupun kadang orangnya kasar, anaknya yang pertama Mas Haryo sudah kerja di supermarket di pusat kota dan anaknya kedua sih, Mbak Tina hanya dapat menikmati sekolah menengah pertama walaupun hanya sekolah menengah pertama tetapi sudah kerja di luar negeri  dan sekarang kerja jadi TKW di Arab.

Aku berlari-lari pulang kerumah, berharap keadaan ibu sudah membaik, tetapi aku khawatir dengan adikku Ario yang dari tadi malam, mukanya pucat sekali dan belum makan lagi.  “ Ibu, Ibu,,cepat sembuh ya,.aku mau beli obat dulu. Dek tungguiin ibu dirumah ya.!!” Kataku dengan lembut dengan adikku tersayangku yang berada di samping ibuku.

Perjalanan panjang sering seperti ini, aku pikir bapakku selalu tidak ada ketika ibu sakit, kemana Bapakku pergi? Saat darurat seperti ini, malah aku harus mengerjakan sendiri, Bapakku pasti pergi ketempat istri barunya atau main-main lagi. Aku bingung mengapa, Ibuku selalu tabah saat tangan ringan Bapakku menampar muka ibuku dan hujatan kasar di terimanya, dari kecil aku melihatnya. Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi, aku ingin punya impian bersekolah dan berbagi untuk kemanusiaan bukan lagi menjadi penerus generasi kemiskinan keluarga. Tetapi apakah ini hanya impian dari seorang anak gadis pemulung. Aku mencoba berlari sekencangnya untuk menembus kehidupan.  BRAKKKKK…inilah kiamat bagiku. Tiba-tiba yang tidak pernah aku duga dalam kehidupanku…aku berlari kencang dengan bawa obat untuk ibu dan makanan untuk dimakan pagi itu. Mataku melihat bahwa perkampungan kumuh kami penuh api,,api,,dimana-mana ada api, dimana ibu dan Ario,,???

“ kebakaran,, kebakaran,,,kebakaran,,air..air..cepat,,” teriak-teriak orang-orang di tempat perkampungan kumuh di pinggiran kota..

Aku tersungkur,,aku lemas dan terasa ada seribu kaki yang meninjak-injak tubuhku yang kurus di tanah,,aku seperti masuk dalam dunia yang tidak pernah aku lihat. Tersadar dalam bilik-bilik penuh ratapan dan tangisan,,Oh, Tuhan. Apa ini??? Inikah nilai hidupku, kesusahan selalu seperti lingkaran setan. Terkubur dalam sesuatu impian, aku tetap bersyukur dalam kekuatan diri, kasih ibu dan adikku, tetanggaku, Pak Le Sugeng, Mbak Rima, Mbak Rahayu, Mas Karso, Bapakku yang masih aku ingat jasanya kepadaku. Inilah nilai syukurku. Aku terjatuh dalam kondisi ini.Perih, melupakan tawa canda bersama keluarga, bau busuknya sampah dan baju yang aku pakai, wajahku yang makin menghitam mengkilat. Cukuplah Tuhan atas kasih sayang keluargaku yang beranekaragam.

Dettakkkk,,,rasa sakit, pilu,,aku harus bertahan demi perubahan hidup, Tuhan biarkan tangan-Mu yang menguasai hatiku untuk bertahan, berikan kekuatan, jangan tinggalkan aku dalam kesendirian, jangan lepaskan tangan-Mu yang perkasa. Aku lemah dihadapan-Mu,  Syukurku tak pernah aku tinggalkan dalam berbagi dalam suka, tawa, kenikmatan sang mentari dan hujan yang membasahi bumi, aku ingin berjuang untuk diriku dan orang-orang yang aku kasihi. Hatiku dan badanku hanya milik-Mu. Tak pernah aku tidak mengasihi orang-orang disekitarku dengan segala apa yang dilakukan. Ada suka dan duka, Aku terbangun dari tempat tidur yang reot dan penuh jeritan.  Inilah kuasa-Nya kepadaku. Melihat kedukaan dalam sebuah kegembiran.

Duka itu belum sembuh benar, aku belum menghilangkan dari ingatanku. Akhirnya tidak ada lagi yang tersisa,,kebakaran melenyapkan semua isinya. Ibu, adikku Ario harus bersatu dalam dunia alam kehidupan dan kembali kepada-NYA. Teriak-teriakan kebakaran di perkumuhan pinggiran kota melenyapkan sekitar 7 tempat tinggal perkumuhan yang terbuat dari papan dan kardus serta bambu-bambu yang mudah terbakar, aku tidak tahu berasal dari mana api itu,,Semua lenyap.. seperti mimpi hilang di makan kabut padahal perusahaan-perusahaan di dekat lokasi perkumuhan sedang merayakan kemenangan atas berhasilnya proyek bangunan fisik yang mewah  dan  simpati saja tidak lagi kami terima dengan adanya permasalahan kami yang mengalami pembakaran tempat perkumuhan yang akan dihancurkan digantikan bangunan  yang modernitas. Kemana kami akan berpergi jika pendidikan tidak kami terima. Membuat lagi bangunan tempat perkumuhan untuk kami tetap hidup.

“ Tidak,,,tidak,,Tuhan,,apakah inikah rencana-Mu…..” teriaku. Aku terjatuh lemas dalam kesakitan.

Impian bersekolah hanya tinggal impian, menulis dan membaca saja tidak bisa, aku tidak memiliki keterampilan lagi hingga suatu hari yang panjang di usiaku 24 tahun, aku dapat duduk menikmati udara yang sejuk dari alam menyapu mukaku yang berkaca dalam sebuah gedung institusi pendidikan dan lembaga kemanusiaan. Inilah perjalanan hidup yang panjang, penuh rintangan hingga aku mencapainya atas bantuan banyak manusia ciptaan-Nya.

Tentu saja, Tuhan tidak pernah diam, DIA memiliki rencana terindah-Nya untuk diriku sendiri dan banyak orang. Aku akan membagi ilmu pengetahuan yang aku dapatkan untuk sesamaku bahkan aku mengetahui sedikit pemaknaan akan hidup dimana sisi kemanusiaan, di mana sisi Ketuhanan jika permasalahan selalu ada. Aku bersyukur atas segala perbedaan dalam dunia yang tidak dapat aku menduganya karena Engkau Tuhan, pemberi dalam segala berkat atas kerja usaha kami dan atas rasa berbagi dan mencintai sesama dengan hati yang tulus untuk melayani sesama tanpa melihat latar belakang dengan kecedasan yang di miliki terutama iman. Terima kasih atas segala kehidupan yang penuh warna-warni di dalam taman kehidupan di jagat raya ini.

 

Tabir kehidupan menemukan kedalaman jiwa….

Kehidupan adalah panggung yang penuh peran-peran yang selalu berubah..

Kebaikan dan keburukan akan dipelajari dalam sisi kehidupan..

Neraka dan surga bagaikan suatu tujuan hidup yang tentu tidak dapat kita menduganya..

Arah ini adalah hidup atau mati dalam genggaman kuasa ilahi-Nya.

Manusia memiliki pikiran yang luar biasa tak terbatas tetapi Tuhan membatasi..

Alam pun bereaksi atas segala perbuatan manusia..

Kembali melihat hati sanubari terdalam,,

Bahwa manusia adalah ciptaan-Nya..

 

 

Posted in: Uncategorized