FAKTA SOSIAL TERHADAP PERILAKU SEKSUALITAS DARI PERSPEKTIF GENDER

Posted on Juni 29, 2010

0


  1. PENDAHULUAN

Membicarakan seks bukanlah menjadi suatu pembicaraan yang tabu walaupun sebagian tradisi di daerah melarang menceritakan tentang perilaku seksualitas terkait dengan norma-norma dan nilai-nilai yang mengikatnya sehingga banyak individu-individu maupun kelompok tertentu malu menceritakan masalah seks, apalagi penyakit kelamin. Pemahaman tentang perilaku seksualitas sungguh memprihatinkan, apalagi institusi pendidikan masih kurang mengenalkan pelajaran tentang perilaku seksualitas dan kesehatan reproduksi karena di anggap masih tabu, bahkan kebijakan negara mengenai masalah pornografi, keluarga berencana dan permasalahan ini mendoktrin masyarakat sebagai hal yang sungguh privasi bahwa semua permasalahan seks dapat dipelajari dengan sendirinya, hal ini terjadi terkait dengan gejala sosial yang mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya yang berbeda dari karakteristis psikologis, biologis individu.

Gejala sosial yang riil merupakan fakta sosial yang harus dipelajari secara sistematis dengan metode-metode empiris, seperti yang di ungkapkan oleh ahli sosiologis Emile Durkheim sebagai kekuatan yang memaksa, bersifat eksternal. Kehadiran kekuatan ini dapat di kenal walaupun tidak di ikuti, baik dengan adanya sanksi tertentu maupun perlawanan yang diberikan kepada setiap usaha individu yang cendrung melanggarnya.[1] Fakta sosial terkait dengan perilaku seksualitas individu-individu memberikan perspektif bahwa perilaku seksualitas menjadi suatu privasi pribadi individu tetapi menjadi akar permasalahan sosial yaitu pelacuran sebagai transaksi bisnis yang disepakati oleh pihak yang terlibat sebagai suatu yang bersifat kontrak jangka pendek, yang memungkinkan satu orang atau lebih mendapatkan kepuasan seks dengan metode yang beranekaragam.( Perkins dan Bernnet. 1985 ), kekerasan dalam rumah tangga, pekerjaan, kesehatan reproduksi dan ketidakadilan gender.

Permasalahan terkait dengan perilaku seksualitas dari perspektif gender dalam satu fakta sosial riil memberikan penjelasan bahwa pengaturan-pengaturan yang mengikat tidak memberikan ruang bebas dalam memberikan solusi permasalahan perilaku seksualitas.

B. PEMBAHASAN

Secara biologis perilaku seksualitas manusia merupakan fungsi kegiatan harmonial, khususnya kegiatan hormon-hormon seks di dalam tubuh setiap manusia, terkait dengan gender. Istilah gender tercetus pada tahun 1972 oleh sosiolog feminis dari Inggris bernama An Oakley yang ketika itu merefleksikan tubuh perempuan penuh dengan embel-embel oleh masyarakat sebagai suatu kodrat sehingga proses embel-embel dinamakan dengan istilah ”pengenderan”. Istilah gender menunjuk pada perilaku kedua seks jantan dan betina yang dipelajariu dan diharapkan secara sosial bahkan merupakan konstruksi sosial sedangkan seksualitas menunjuk pada orientasi seks seseorang.[2]

Perilaku seksual dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron pada wanita serta hormon testosteron pada laki-laki. Hormon estrogen memicu timbul-timbulnya gejala psikologis dari birahi dan memicu timbulnya tanda-tanda fisik pada wanita begitu pula dengan hormon testosteron pada laki-laki memicu timbulnya tanda-tanda fisik pada laki-laki. Perbedaan secara biologis memicu terjadinya perbedaan gender serta menjadi alasan bagi laki-laki untuk mengesahkan perbedaan peran sosial atas dasar gender. Ketidakadilan atas gender semakin menyudutkan kaum perempuan dalam aktivitas sosial maupun segala bidang pekerjaan bahkan budaya patriarki mendukung alasan ketidakadilan gender. [3]

Kaum perempuan terbelenggu oleh fakta sosial yang riil terjadi di masyarakat bahwa norma-norma dan nilai-nilai yang mengikat kaum perempuan tidak memberikan ruang bebas dalam segala bidang. Fakta sosial terkait dengan kebijakan negara yaitu pornografi, keluarga berencana, kesehatan reproduksi terkait dengan kesuburan, sikap masyarakat terhadap perempuan hamil, perempuan pekerja. Pada manusia, perilaku seksualitas merupakan interaksi antara perilaku prokreatif dengan situasi fisik serta sosial yang melengkunginya. Dalam konsep Sigmund Freud tentang seksualitas manusia bukan sekedar kegiatan genitalia dengan tujuan prokreatif tetapi lebih merupakan perilaku mencari kesenangan dalam arti luas ( Eros ),yang terdiri dari 2 unsur yaitu pelestarian pribadi ( Self Preservation) dan reproduksi.

Dalam kasus Poligami sebagai perilaku seksual yang normal bagi laki-laki di berbagai komunitas tradisional dunia, sedangkan perilaku seksual poliandri secara universal belum dapat diterima sebagai kenyataaan realitas sosial. Perilaku homoseksual, gay dan lesbian masih belum diterima sebagai fakta sosial yang ada.


[1] Johnson, Doyle Paul. Teori sosiologi klasik dan Modern. Hal: 174-178

[2] Sumber dari pengantar Antropologi. Materi dari Y. Tri Subagya.2009.

[3] Mohamad, Kartono. 1989. Konstrakdiksi dalam kesehatan reproduksi. Hal:1-9

Posted in: Uncategorized