teori konflik

Posted on Maret 8, 2010

0


TOKOH-TOKOH SOSIOLOGI MODERN DENGAN TEORI KONFLIK

Teori konflik muncul dari kenyataan sosial yang ada, bagi Marx, konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk memperebutkan aset-aset bernilai.

Teori konflik muncul karena reaksi dari adanya teori fungsionalisme structural, sebenarnya apa yang dimaksudkan dengan teori konflik? Teori konflik adalah satu pandangan di dalam masyarakat sebagai satu system sosial yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda, dimana komponen ini saling menaklukkan satu sama lain untuk mendapatkan keuntungan bagi kepentingan diri sendiri maupun kelompok. Teori konflik inilah yang menjadi akar karya Karl Marx yaitu mengenai perjuangan kelas dan Alienasi serta Materialisme. Teori Marx banyak dikembangkan oleh tokoh-tokoh sosiologi modern.

1. Lewis A. Coser

Lewis A.Coser lahir di Berlin tahun 1913, setelah perang dunia II, Coser mengajar di Universitas Chicago dan Universitas Brandeis, ia mendapatkan gelar Ph.D-nya di Universitas Columbia. Pada tahun 1975, ia terpilih menjadi Presiden American Sociological Association (ASA) dan memunculkan karya yang fenomenal yaitu The Functions of Social Conflict. Dalam karya itu berisi tentang 16 proposisi dari kutipan Georg Simmel kemudian dikembangkan menjadi penjelasan yang menarik serta Coser mengeritik proposisi Georg Simmel dengan menghubungkan perkembangan fakta dan fenomenal yang jauh sebelum Georg Simmel hidup dan tidak jarang membandingkan dengan gagasan sosiolog-sosiolog klasik, bahkan yang menarik dari teori Coser adalah sangat displin dalam satu tema.

Tema-tema Coser sangat Concern, baik konflik ditingkat eksternal maupun internal, Coser dapat menjelaskan secara detail baik konflik dalam maupun luar, ada upaya Coser untuk mengintegrasikan Fungsionalisme dengan konflik bahkan mengekombinasi lebih kuat ketimbang berdiri sendiri.

Dalam Greedy Institusions (Institusi tamak) yang berisi tentang karakter kehidupan modern yang sudah tidak memandang bulu yang terdistribusi, tersegmentasi dan terelineasi sehingga membatasi kebebasan masyarakat dan Coser tertarik dengan jariangan konflik atau kesetiaan yang terpotong yang dapat meningkatkan serta menggerakan masyarakat untuk melakukan perjuangan hidup dan konfrontasi.

Pemikiran Coser dilatarbelakangi oleh sosiolog-sosiolog klasik yaitu Georg simmel, Sigmund Freud, Coser mengkritisi eksposisi pengembangan yang lebih tajam dalam fregmentasinya dari Simmel dan menambahi gagasan dari psikologi Freud.

Coser berpendapat bahwa konflik merupakan bagian dari masyarakat bahkan sisi kehidupan sosial yang mendasar serta konflik lebih penting untuk dijelaskan ketimbang consensus, hal ini berkaitan dengan kritikan sosiologi Amerika yang mulai melupakan permasalahan konflik dan ramai-ramai mengembangkan fungsionalisme. Mengapa hal ini terjadi karena konflik adalah disfungsi yang harus dihindari dan lebih tertarik pada tema terapan. Coser juga tidak lupa mengkritik gagasan dari Parsons yang mengacu pada upaya menjaga keseimbangan dan consensus daripada mengupas lebih dalam tentang konflik. Menurut Ruth Wallace dan Alison Wolf dalam Contemporary Sociological Theory: Continuing The Classical Tradition,yang mengatakan Coser adalah sosiolog yang setia atas kajian konfik dan di kaji 2 hal yang penting yaitu: Pertama konflik dapat mengikat masyarakat secara bersama-sama. Kedua, konflik dapat menggerakkan perjuangan dan konfrontasi.

2.Gagasan-Gagasan Coser

Proposisi 1: Group Binding Functions of Conflict ( Kelompok Mengikat Fungsi-fungsi Konflik), Coser yang mengkritisi gagasan George Simmel yang terletak pada adannya ketidakjelasan atau pembeda antara rasa bermusuhan –konflik –legitimasi serta kegagalan Simmel adalah tidak membedakan antara perasaan bermusuhan dan konflik, sedangkan konflik terletak pada interaksi sosial baik dua orang atau lebih,tindakan bermusuhan adalah hal yang rentan terlibat konflik.

Proposisi 2: Kelompok memelihara Fungsi konflik dan Arti penting Lembaga katup penyelamat. Coser masih mengritisi gagasan Simmel bahwa konflik tidak semuanya bermakna negatif dan tindakan konflik dengan rasa permusuhan tidak sama.

Proposisi 3: Realitas dan Konflik tidak Realitis, gagasan Simmel adalah konflik disebabkan benturan kepentingan pribadi serta pembatasan perjuangan sebagai alat mencapai tujuan. Sedangkan Coser membaginya dalam 3 hal yaitu  konflik Realitis,  konflik tidak Realitis dan kemungkinan campuran. Lebih singkatnya penjelasan Realitis adalah konflik muncul dari frustasi, konflik juga alat mendapatkan hasil-hasil tertentu, konflik akan berhenti jika actor menemukan lawan yang seimbang, konflik realities terdapat pilihan-pilihan fungsional sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sedangkan Konflik tidak realities adalah melibatkan dua orang atau lebih dan tidak diakhiri dengan permusuhan dari lawan. Kemungkinan campuran adalah konflik non realitis meruapakan perubahan dari kebencian realitis.

Proposisi 4: Permusuhan dan hubungan sosial yang erat.

Dalam hal ini, Coser mengkritik Homans serta Simmel, Homans tidak melihat bahwa kesukaan akan muncul bersamaan rasa benci, gagasan simmel yang sederhana dapat dikembangkan oleh Freud sebagai ambivalensi yaitu sebuah pertunjukan perasaan antitesis (sayang & rasa benci), Coser juga menyatakan bahwa prilaku permusuhan lebih siap terjadi pada hubungan sosial yang erat,

Proposisi 5: Dampak dan fungsi konflik dalam struktur kelompok, dalam hal ini Coser menfokuskan 2 jenis konflik yaitu konflik yang jenis persoalan berbeda, dan konflik jenis struktur berbeda. Coser juga menyatakan ada 2 bentuk konflik yaitu konflik non-komunal (komunitas tidak mengikat antara kelompok pada konflik dan tidak ada hasil ketika kompromi dilakukan) dan Konflik komunal ( konflik ini bersifat integrasif atau didasarkan pada penerimaan umum)

Proposisi 6: Konflik dengan kelompok lain meningkatkan Kohesi internal, dalam hal ini Coser mempunyai penaksiran yang berbeda dari gagasan Simmel yaitu konflik membuat kelompok maupun individu lebih sadar tentang ikatan serta partisipasi komunitas. Gagasan Simmel bahwa konflik mengarah pada bentuk peperangan sedangakan peperangan merupakan bentuk lain dari konflik dan kesimpulannya tidak dapat dipertahankan.

Proposisi 7: Konflik dan Ideologi

Dalam proposisi Simmel, dia menanggapi dengan membedakan jenis konflik yaitu tujuan yang bersifat personal(subyektif) dan tujuan objek yang sifatnya impersonal( Obyektif). Simmel menegaskan 2 pendapat yaitu: Individu-individu masuk dalam konflik supraindividual yang bertindak sebagai wakil kelompok, kedua, individu-individu ini dikaruniakan kehormatan dan kebenaran diri ketika mereka tidak bertindak untuk alasan yang menentingkan diri sendiri.Dalam menanggapi proposisi dari simmel, Coser sedikit mengutip dari Marx bahwa kesadaran kelompok dapat disamakan dengan kesadaran kelas yakni adanya transformasi dari setiap individu dengan keadaan hidup yang khusus untuk mewakili kesadaran kelompok. Coser mengungkapkan peran intelektual, sebab peran intelektual memiliki kepentingan dalam mengobjekkan gerakan sosial dalam mentransformasikan kelompok kepentingan dalam gerakan ideologis.

1.Randall Collins tentang Interaksi sosial, konflik, kekuasan, dan distribusi sumber daya.

Collins tertarik dengan tradisi konflik baik yang dimulai dari Machiavelli, Thomas Hobbes, Max Weber, Karl Marx. Menurut Machiavelli dan Thomas Hobbes, adanya keteraturan sosial karena paksaan organisasi. Dalam melihat gagasan Karl Marx, Collins telah meringkasnya yaitu dalam hal historis, adanya bentuk kepemilikan modal serta alat produksi dikuasai oleh kekuasaan Negara yang sifatnya memaksa, oleh karena itu adanya kelas-kelas dibentuk dengan pembagian kepemilikan. Adanya sumbangan Material mempengaruhi perkembangan dimana kelas sosial mengaturnya secara efektif demi kepentingan pemilik modal dan alat-alat produksi juga menentukan kepentingan yang dapat mengartikulasikan ide-ide untuk mendominasi dunia ideologis. Dalam hal ini, Collins tidak terpaku dengan teori konflik Marx tetapi mencoba menggabungkan dari teori-teori sosiolog lainnya yaitu Weber, Durkheim dan Goffman. Gagasan-gagasan Collins tentang konsep kekuasan, konflik di masyarakat, sumber daya dalam konflik, konflik, stratifikasi sosial dan dinamika sumber daya, organisasi sebagai arena konflik, konflik melahirkan konflik-konflik lainnya dan tipologi konflik. Dalam hal ini Randall Collins banyak menjelaskan secara panjang lebar mengenai teori konflik yang tidak terlepas dari teori- teori klasik, seperti halnya kekuasaan ini tidak lepas dari teori Weber, Collins menyatakan bahwa dalam kekuasaan akan menimbulkan konflik, Collins tidak hanya menyoroti konteks politik tetapi lebih mikro ekonomi yang mengarah pada persoalan kerja sehari-hari akibat kepentingan ekonomi diri dan tidak harus diartikan sebagai antitesis kelas Marx.

Konflik di masyarakat dapat terjadi  karena hal-hal tertentu seperti Wealth, prestige, dan power yang semua masyarakat atau individu ingin mengejarnya dan Collins tidak membatasi konflik sebatas penjelasan materialis saja tetapi pada gagasan-gagasan ( ideas) dan cita-cita, dan sesuatu hal yang sifatnya simbolik dan solidaritas emosional ternyata menjadi senjata utama dalam konflik.

Sumber daya dalam konflik meliputi material dan sumber daya teknik seperti kepemilikan  kekayaan, alat produksi, dan senjata. Sumber daya dalam konflik juga tidak terlepas dari peran dalam hubungan personal dan kemampuan negosiasi untuk mendapatkan material dalam meningkatkan status maupun menjual kemampuan cultural untuk memaksakan solidaritas emosional. Dalam hal ini Collins membagi menjadi 2 sumber daya dalam konflik yaitu Generalized cultural capital ( seperti : pengetahuan, posisi, otoritas dan pengelompokan) dan Particularized cultural capital ( seperti: identitas-identitas khusus, reputasi, jaringan dan posisi pada sebuah organisasi).

Konflik kaitannya dengan stratifikasi sosial dan dinamika sumber daya, Collins menjelaskan kemunculan konflik akibat stratifikasi sosial dan dinamika sumber daya namun Collins lebih menekankan konflik yang dipolakan oleh struktur stratifikasi dengan intentitas dominasi, dengan sumber-sumber yang mendorong kelompok-kelompok untuk mengorganisasikan dan memobilitasi. Konflik yang dilihat dari stratifikasi sosial adalah operasi lewat struktur dan intensitas dominasi, dengan sumber-sumber yang mendorong kelompok-kelompok mengorganisasi dan memobilitasi dengan penguasaan sumber daya.

Konflik juga berkaitan dengan organisasi yang dijadikan arena konflik, menurut Collins, konflik yang terjadi di organisasi baik organisasi politik maupun organisasi kerja lebih ditekankan pada maneuver merusak ikatan organisasional dibandingkan merusak dalam artian fisik. Dalam teori konflik Collins lebih memperlihatkan konflik yang mempengaruhi  solidaritas sosial, sosial ideal, sentiment moral, dan altruisme sebab distribusi dari kondisi material dan organisasi menghasilkan cita-cita dan perasaan-perasaan yang dapat mendominasi hierarki atau kelompok. Konflik juga melahirkan konflik-konflik berikutnya, konflik potensial dihidupkan oleh kelompok-kelompok yang memiliki beberapa pengertian kesadaran moral. Dalam teori konflik Collins juga membagi tipologi konflik menjadi 2 yaitu bentuk konflik yang cendrung terus dalam periode yang lebih panjang dibandingkan konflik yang hebat, bentuk selanjutnya adalah konflik yang relative ringan cendrungi mengurangi kehebatan birokratisasi. Dalam hal terjadinya konflik yang hebat lebih menekankan pada sumber daya emosi dalam waktu jangka pendek sedangkan dalam jangka panjang lebih memerlukan faktor-faktor sumber daya material.

Ralf Dahrendorf

Konflik Wewenang yang mengganti konflik kelas, Sir Ralf Dahrendorf lahir di Hamburg, Jerman pada tahun1929, sebelum mempelajari sosiologi, ia mempelajari filsafat dan sastra klasik di Hamburg dan mulai mempelajari sosiologi  di London Inggris. Teori konflik Ralf Dahrendorf yang terkenal kuat menyerang perspektif fungsionalisme strultural, Ia menyatakan bahwa fungsionalisme structural adalah sosiologi utopis yang digerakan oleh Talcott Parsons yang lebih merumuskan masyarakat dengan penekanan pada nilai-nilai bersama, konsensus, integrasi sosial dan keseimbangan, dan tidak memberikan perhatian pada konflik dan perselisihan yang merupakan bagian intern dari kehidupan masyarakat, serta mustahil menggabungkan teori fungsionalisme structural dengan konflik dan tidak mungkin disatukan. Tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikiran Ralf Dahrendorf adalah Karl Marx, Ia mengambil gagasan dari teori, hipotesis dan konsep-konsep dari Karl Marx tetapi juga mengkritiki ramalan tentang revolusi kelas Karl Marx yang tidak terbukti. Tidak semua gagasan Karl Marx didukung maupun dikritik oleh Ralf Dahrendorf, selanjutnya Ia juga mengkritiki tokoh fungsionalisme structural yaitu Talcott Parsons terkait asumsi-asumsi yang dipegang teguh oleh teori ini, dan Ralf Dahrendorf memasukan gagasannya tentang fungsi yang menjelasakan stratifikasi sosial secara sosialogis dan didalam teori fungsionalisme structural hanya menjembatani pemikiran stratifikasi sosial yang kurang objektif sehingga Ralf Dahrendorf menyebut teori utopia yang dikemukkan oleh Talcott Parsons. Tokoh yang tidak kalah mempengaruhi teori konflik dari Ralf Dahrendorf adalah Max Weber mengenai gagasan kekuasaan, otoritas, dominasi dan perundukan.

Gagasan- gagasan dari teori konflik dari Ralf Dahrendorf adalah kritik terhadap perspektif fungsionalisme, dimana teori ini berasumi bahwa struktur masyarakat sebagai sebuah system yang terintegrasi secara fungsional, dimana keseimbangan dipertahankan melalui pola-pola tertentu dan lewat proses yang berulang-ulang. Secara singkat Ralf Dahrendorf menjelaskan point-point tentang teori fungsionalisme yang dikritiki yaitu:

  1. Masyarakat adalah elemen-elemen struktur yang berkembang relatif stabil.
  2. Masyarakat adalah elemen-elemen struktur yang terintegrasi dengan baik
  3. Setiap elemen masyarakat mempunyai fungsi yaitu menyebabkan suatu sumbangan terhadap ketahanan system.
  4. setiap fungsi structural sosial didasarkan oleh consensus nilai-nilai antar anggota-anggotanya.

Kritik Dahrendorf adalah fungsionalisme masih menggunakan teori yang konservatif dan sedikit sekali menjelaskan konflik, sehinggga muncul teori konflik di akhir tahun 1950 dengan kritik mengenai masyarakat yang jelas berbeda melalui pendekatan konflik yaitu:

  1. Masyarakat dalam setiap waktu diatur oleh beberapa perubahan sosial yang tidak dapat dihindari.
  2. masyarakat dalam setiap waktu menunjukan adanya konflik dan disensus, kedua-duanya merupakan fenomena masyarakat yang tidak dapat dihindari.
  3. setiap anggota masyarakat akan memberikan adanya suatu sumbangan disintegrasi dan munculnya perubahana.
  4. setiap masyarakat didasarkan atas tekanan para anggotanya oleh pihak lain.

Dahrendorf juga menerima, menolak, melakukan modifikasi teori-teori Karl Marx, pendekatan marxis lebih digunakan sebagai alat analisis saja, bahkan Dahrendorf melakukan revisi dari gagasan Karl Marx yaitu mengenai revolusi kelas, yang tidak terbukti kebenaranya dan bahwa masyarakat telah berubah menjadi struktur dari kapitalis menjadi post-kapitalis dan ini memperkuat bahwa kapitalisme belum tumbang. Dahrendorf juga menyatakan bahwa analisa dari Karl Marx mengenai masyarkat kapitalis sebagian benar namun diterapkan pada masyarakat sekarang ( Post-kapitalisme) harus dimodifikasi bahwa pengertian kelas yang mengarah pada alat produksi sudah tidak tepat tetapi lebih dijelaskan sebagai konteks kelompok-kelompok yang bertentangan  disebabkan oleh pembagian wewenang didalam perserikatan yang dikoordinasi secara paksa. Dahrendorf juga menjelaskan cirri-ciri masyarakat industri modern yaitu:

  1. Dekomposisi modal dimana diungkapkan oleh Dahrendorf sebagai dominasi korporasi dan penghilangan kapitalisme. Contohnya dari Erving M. Zeitlin (1994:167) yaitu:

“ Dewasa ini, lebih dari 2/3 perusahaan dalam masyarakat industri sudah merupakan industri saham gabungan dan pemilikan mereka melebihi 4/5 dari seluruh jumlah total pemilikan dan dijalankan oleh individu bahkan keluarga telah berhenti menjadi pola-pola yang dominan dalam organisasi ekonomi.”

  1. Dekomposisi buruh, dengan adanya dekomposisi modal muncul dekomposisi buruh yang mengalami perubahan standar hidup, hal ini dijelaskan lagi yaitu adanya perubahan dari abad sebelumnya dimana buruh ditempatkan di sektor pertanian maupun pabrik serta memiliki prestise yang rendah yang banyak terlibat dalam pekerjaan manual ( blue-collar occupation) tetapi sekarang post-kapitalisme, pekerjaan buruh berubah mengalami peningkatan sebagai white collar occupation yakni perkerjaan yang bergengsi tinggi banyak melibatkan aktivitas mental dan adanya diferensiasi kerja seperti sales, managemen serta pekerja lapangan lainnya sehingga disini pekerja white collar tidak lagi dipandang proletariat industri. Ada 3 Dekomposisi buruh, yang dikelompokkan oleh Dahrendorf yaitu:
  • Pekerja yang memiliki keterampilan ( skilled labour)
  • pekerja yang memiliki separo keterampilan ( semi-skilled labour)
  • pekerja yang tidak memiliki skill (unskilled labour)

Dalam hal ini, apa yang diramalkan oleh Karl Marx sama sekali mustahil terjadi disebabkan situasi yang tidak sama.

3. Munculnya Kelas Menengah

Dalam hal ini dijelaskan bahwa munculnya dekomposisi modal dan dekomposisi buruh menimbulkan kelas menengah dengan kata lain, populasi buruh sebagai kelompok bawah makin berkurang karena tidak terlepas dari kelas pekerja yang terorganisasi diri. Singkatnya hak-hak warga Negara ditunjang oleh dana pensiun, tunjangan pengangguran, jaminan kesehatan, bantuan hukum maupun ketentuan upah minimum, kalau terjadi konflik mengenai isu-isu perburuhan dapat diselesaikan melalui internal maupun badan hukum pemerintahan melalui fasilitas perundingan. Oleh karena itu tidak mungkin terjadi revolusi kelas seperti yang diramalkan oleh Karl Marx.

  1. I.      Gagasan-gagasan penting Ralf Dahrendorf

Dahrendorf tidak menolok bahwa didalam masyarakat terdapat consensus tetapi ia menegaskan bahwa konflik adalah structural dalam kehidupan sosial dan ini merupakan kegagalan sosiologi bahkan ilmuwan sosiologi untuk menjelaskan konflik sebagai fenomena sosial oleh karena itu Dahrendorf menekankan dialektika tentang konflik sosial yang berkaitan dengan pentingnya peran kewenangan dan kekuasan ( power). Ralf Dahrendorf menjelaskan perbedaan kekuasan dan wewenang, ini terletak pada kenyatan bahwa kekuasan pada dasarnya berhubungan dengan kepribadian individual dan wewenang berkaitan dengan posisi dan peranan sosial seseorang. Dari asumsi yang dikemukan oleh Dahrendorf  maka ia mengambil referensi modal yaitu:

a)      Pembagian wewenang dalam perserikatan adalah penyebab utama terbentuknya kelompok-kelompok yang bertentangan.

b)      Dikotomi dalam setiap perserikatan adalah penyebab terbentuknya 2 kelompok yang bertentangan.

Secara singkat Dahrendorf menjelaskan secara detail yaitu hubungan wewenang adalah selalu berbentuk hubungan antara supra dan subordinasi bersifat atas bawah, dimana dengan perintah dapat mengendalikan yang ada dibawahnya dan wewenang ini secara relative dilekatkan pada posisi sosial daripada pribadi individual serta hubungan wewenang selalu meliputi spesifikasi orang-orang yang tunduk pada pengendalian dan spesifikasi dalam bidang-bidang yang mana pengendalian itu diperbolehkan dan tidak digeneralisasikan. Wewenang adalah bentuk yang sah dari badan hukum. Dahrendorf menjelaskan perserikatan adalah Negara, gereja, perusahaan, partai politik, serikat buruh dan klub.

Dahrendrof juga menjelaskan teori konflik dengan pendekatan konsep dialektis seperti yang dikutip oleh Timasheef dan Theodorson (1979: 280) adalah :

“ modal konflik dialektis ada karena sumber konflik sosial terlihat sudah tidak terelakan, muncul dari pembagian inheren dari semua organisasi sosial kedalam 2 kategori peran yang berlawanan yaitu mereka yang memiliki otoritas dan subordinate.”

Kelompok-kelompok yang bertentangan tidak semua asosiasi menyadari kepentingannya sehingga dibagi dalam kelompok yang belum menyadari konflik yaitu kepentingan laten dan kelompok dalam suatu asosiasi yang sudah menyadari adanya konflik kepentingan yang disebut kepentingan manifes, kepentingan laten berpotensial yang ditentukan oleh seseorang dan memiliki peran tertentu hingga dapat berubah dalam bentuk kepentingan nyata atau manifest, selanjutnya kelompok yang belum menyadari kepentingannya dan menjadi sadar kepentingannya sehingga terbentuk kelompok semu dengan cirri-ciri sebagai  berikut yaitu sebuah inti atau system nilai yang bertujuan bersama, personal, orang-orang yang mengaturnya, adanya norma tertentu, adanya peralatan material, ada kegiatan tertentu yang teratur dan fungsi objektif.

Didalam kelompok semu ini terbentuk kelompok kepentingan namun ada perbedaan antara kelompok semu dengan kelompok kepentingan yaitu kelompok manifest ini lebih pada gagasan, ide serta membuat program-program sedangkan kelompok kepentingan sudah seperti partai politik, serikat dagang dan bentuk lembaga lainnya, kelompok kepentingan ini berpotensi menjadi kelompok konflik, hal ini berhubungan dengan 3 faktor yaitu kondisi teknik organisasi yang bergantung pada pembentukan kepemipinan dan kader dalam kelompok semu dan diperlukan bagaimana membangun ideologi dan system kepemimpinan, kondisi politis yang bergantung pada kelompok dominan untuk mengizinkan memperbolehkan berdirikan organisasi besar yang memiliki kepentingan berlawanan sehingga dapat leluasan bergerak, dalam system Negara yang demokrasi, kelompok kepentingan makin diuntungkan tetapi dalam system Negara totaliter, sangat kecil kelompok kepentingan bergerak leluasa, selanjutnya kondisi sosial yang berkaitan dengan kesempatan anggota semu berkomunikasi dan merekrut anggota-anggota.

Dalam memahami semua gagasan Dahrendorf dapat dirangkum dalam beberapa point yaitu:

  1. Semakin sedikit kondisi teknikal, sosial, dan politik dari organisasi, semakin hebat konflik yang terjadi.
  2. Semakin sedikit mobilitas anyara kelompok yang memiliki otoritas, semakin hebat konflik akan terjadi.
  3. Semakin sedikit kondisi tekniukal. sosial, dan politik dari organisasi, semakin hebat kekerasan akan terjadi.
  4. Semakin kecil kemampuan  kelompok-kelompok konflik mengembangkan kesepakatan terkait dengan pengaturan, semakin besar kekerasan akan terjadi.
  5. Semakin hebat konflik, semakin akan terjadi reorganisasi dan perubahan structural.
  6. Semakin banyak kekerasan ada di konflik, semakin besar tingkatan reorganisasi dan perubahan structural (idem,lihat juga dalam George Ritzer (terjemah), 2004 : 157).

Teori Konflik C Wright Mills (1916-1962) di Waco adalah sosiolog Amerika yang berusaha menggabungkan perspektif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial, tema-tema yang diangkat oleh Mills adalah hubungan antara alienasi dan birokrasi dan kekuasan kaum elit. Mills mengecam kapitalisme dan birokrasi modern karena menyebabkan alienasi dalam diri pekerja atau karyawan.

Di Amerika kedudukan atau posisi penting banyak dikuasai oleh kaum elit dalam bidang militer, ekonomi, politik. Mills sepaham dengan teori Marxis dan Neo-Marxis dalam hal alienasi, efek dari struktur sosial terhadap kepribadian  dan manipulasi manusia oleh media tapi yang membedakan dari tokoh-tokoh sebelumnya ia tidak melihat pemilikan pribadi sebagai sumber kejahatan di dalam masyarakat.

Teori konflik dari Jonathan Turner, dia mengemukan 3 persoalan utama dalam teori konflik yaitu tidak ada definisi yang jelas mengenai konflik atau apa yang bukan konflik, kedua, teori konflik dilihat mengambang karena tidak menjelaskan unit analisis secara jelas, apakah itu konflik individu, kelompok, institusi, organisasi atau konflik antar bangsa. Ketiga adalah teori konflik ini merupakan reaksi dari teori fungsionalisme structural maka sulit dipisahkan dari teori tersebut. Turner mempusatkan pada konflik sebagai suatu proses dari peristiwa-peristiwa atau fenomena yang mengarah pada interaksi yang disertai kekerasan antara 2 pihak atau lebih dan Turner juga menjelaskan konflik yang terbuka, singkatnya adalah system sosial terdiri dari unit-unit yang saling berhubungan satu sama lainnya dan didalamnya terdapat ketidak-keseimbangan atas pembagian kekuasan dan kelompok-kelompok yang tidak memiliki kekuasan mulai mempertanyakan legistimasi, pertanyaan tersebut mengubah kesadaran untuk mengubah system alokasi kekuasan. Kesadaran dari kelompok yang tidak memiliki kekuasan menimbulkan kemarahan dan menyebabkan semakin tegang akhirnya terjadi konflik terbuka antara kelompok yang berkuasa dan tidak berkuasa.

DAFTAR PUSTAKA

Raho, SVD Bernard.2007. Teori sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka publisher.

Dwi Susilo, Rachmad K.2008. 20 Tokoh Sosiologi Modern. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA.

About these ads
Posted in: Uncategorized